Resiko kesehatan terkait dengkur

Dengkur atau yang sering kita kenal dengan kata Ngorok, adalah hal biasa yang sering kita temui sehari-hari. Bahkan mungkin kita sendiri yang sering ditegur teman tidur, bahwa kita ngorok. Ngorok dianggap hal biasa, tapi sesungguhnya ngorok bukan hal normal, ngorok bisa memperpendek umur.

Mengapa memperpendek umur ? Hambataan pernafasan yang terus menerus bisa mengakibatkan gangguan jantung, hipertensi, ngantuk di siang harinya (mengemudi ngantuk membahayakan jiwa), atau bahkan kematian mendadak karena sleep apnea (henti nafas saat tidur. Jika jenis ngoroknya tidak sampai level membahayakan jiwa atau memperpendek umur, maka ngorok tanpa hambatan nafas hanya mengganggu “good night sleep”. Untuk menikmati “good night sleep” bagi kita para pendengkur dan teman tidur, maka banyak hal yang perlu kita ketahui.

     Snoring atau mendengkur atau ngorok hanya akan muncul jika ada hambatan aliran pernafasan, bisa terhambat di hidung, di mulut dan atau di tenggorok. Tepatnya lokasi mana yang menimbulkan bunyi dan menghambat pernafasan tersebut perlu pemeriksaan teliti seorang spesialis THT. Pemeriksaannya sangat variatif.

Secara pemeriksaan fisik diperkirakan misal karena :
1. Concha hipertrophy (kerang hidung yg besar)
2. tonsil hipertrophy (amandel yang besar)
3. lidah besar
4. kegemukan (obesitas) akibatnya lemak di dinding tenggorokpun yang tebal krn kegemukan bisa menghambat pernafasan
5. Langit langit tenggorok yang kendor.
6. anak tekak (uvula) yang panjangpun bisa menimbulkan bunyi pada dengkur.

Kita simpukan saja, bahwa obstructive sleep apnea (ngorok yang sampai menghambat aliran nafas) adalah penyakit struktur yang hanya bisa diatasi dengan melonggarkan struktur yang menyumbat tadi.

Misal karena kerang hidung besar maka bisa dilakukan concha reductie atau conchotomy untuk mengecilkannya.
Bila yang masalah adalah amandel yang besar maka pengangkatan amandel adalah solusi.
Bila kegemukan maka solusinya menguruskan badan.
Bila langit-langit dan anak tekak yang endor solusiya UPPP (uvulo pharyngo palato plasty).
Besarnya lidah bisa diatasi dengan operasi tongue base channeling (mengkerutkan basis lidah).

Menurut dr. Henny Kartikawati ,M.Kes.Sp.THT,KL Penanganan dengkur yang sampai menghambat pernafasan ini tidak hanya dengan cara operasi. Penggunaan alat seperti chin retractor, mouth piece tounge device, CPAP (continuous positive airway pressure) adalah pilihan disesuaikan dengan di level mana terjadi hambatan pernafasan pada penderita. Bila cara penggunaan alat-alat bantu tersebut masih belum menyamankan pasien dan pasangan tidur, maka tidakan operatif adalah solusi.

Operasi untuk masalah obstructive sleep apnea saat ini setelah ditemukan teknologi plasma coblation, bukanlah operasi yang berbahaya. Alat plasma coblation ini memiliki triple function pada satu ujung (sucction, controlled ablation, dripping NaCl), akibatnya hasil potongannya bisa dibilang tdk berdarah, tidak terbakar (krn hanya 40 derajat celcius) dan endingnya terbentuk pengkerutan. Pengkerutan untuk kerang hidung yang besar, langit langit tenggorok yang kendor dan basis lidah yang besar adalah hal yg kita inginkan untuk memperlebar jalan nafas pada kasus dengur yang menghambat pernafasan. Dan saat ini di negara maju n alat plasma coblation ini sudah sangat biasa digunakan untuk operasi pengangkatan amandel disebabkan tingkat keamanannya yang tinggi. Operasi UPPP (uvulo pharyngo palato plasty) juga sangat terbantu jika menggunakan alat ini.

Radang tenggorok kronis, dahak yang selalu ada tiap pagi, mulut kering kerap kali juga disebabkan karena dengkur. Jadi jika dengkurnya tidak diselesaikan maka kondisi tenggorok yang tidak pernah nyaman adalah bagian dari pengaruh dengkur terhadap kesehatan juga.

Amati gaya dengkur pasangan tidur anda, kalau perlu videokan kemudian berkonsultasilah dengan dokter THT, dokter jantung atau dokter paru. Mereka akan memberikan penjelasan terkait dengkur pasangan anda. Resiko kesehatan yang bisa muncul akibat dengkur ini, harus dilihat kasus perkasus karena masing-masing pendengkur permasalahannya bisa berbeda-beda dan penangannya juga berbeda-beda?

operasi tonsilektomi dengan plasma coblation

Tonsilektomi didefinisikan sebagai metode pengangkatan seluruh tonsil, berasal dari bahasa latin tonsilia yang mempunyai arti tiang tempat menggantungkan sepatu, serta dari bahasa yunani ektomi yang berarti eksisi. Tonsilektomi sudah sejak lama dikenal yaitu sekitar 2000 tahun yang lalu. Cornelius celcus seorang penulis dan peneliti Romawi yang pertama memperkenalkan cara melepaskan tonsil dengan menggunakan jari dan disarankan memakai alat yang tajam, jika dengan jari tidak berhasil.
Tahun 1867 dikatakan bahwa sejak tahun 1000 sebelum masehi orang Indian asiatik sudah terampil dalam melakukan tonsilektomi. Frekuensi tindakan ini mulai menurun sejak ditemukannya antibiotik untuk pengobatan penyakit infeksi.
Tonsilektomi merupakan prosedur operasi yang praktis dan aman, namun hal ini bukan berarti tonsilektomi merupakan operasi minor karena tetap memerlukan ketrampilan dan ketelitian yang tinggi dari operator dalam pelaksanaannya. Di Amerika, tonsilektomi digolongkan operasi mayor karena kekhawatiran komplikasi, sedangkan di Indonesia tonsilektomi digolongkan operasi sedang karena durasi operasi pendek dan tidak sulit.
Di Indonesia data nasional mengenai jumlah operasi tonsilektomi atau tonsiloadenoidektomi belum ada. Namun data yang didapatkan dari RSUPNCM selama 5 tahun terakhir (1993-2003) menunjukan kecenderungan penurunan jumlah operasi tonsiloadenoidektomi dengan puncak kenaikan pada tahun kedua (275 kasus) dan terus menurun sampai tahun 2003 ( 152 kasus).

Beragam teknik terus berkembang mulai dari abad ke-21, diantara teknik tersebut adalah diseksi tumpul, eksisi guillotine, diatermi monopolar dan bipolar, skapel harmonik, diseksi dengan laser dan terakhir diperkenalkan tonsilektomi dengan coblation. Keseluruhan teknik ini mempunyai keuntungan serta kerugian tersendiri dan masih terjadi perdebatan dalam pemilihan teknik yang terbaik.
Anatomi
Tonsil palatina dan adenoid (tonsil faringeal) merupakan bagian terpenting dari cincin waldeyer. Jaringan limfoid yang mengelilingi faring, pertama kali digambarkan anatominya oleh Heinrich von Waldeyer, seorang ahli anatomi Jerman. Jaringan limfoid lainnya yaitu tonsil lingual, pita lateral faring dan kelenjar-kelenjar limfoid. Kelenjar ini tersebar dalam fossa Rossenmuler, dibawah mukosa dinding faring posterior faring dan dekat orificium tuba eustachius (tonsil Gerlach’s).
Tonsil palatina adalah massa jaringan limfoid yang terletak didalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Palatoglosus mempunyai origo seperti kipas dipermukaan oral palatum mole dan berakhir pada sisi lateral lidah. Palatofaringeus merupakan otot yang tersusun vertikal dan diatas melekat pada palatum mole, tuba eustachius dan dasar tengkorak. Otot ini meluas kebawah sampai kedinding atas esofagus. otot ini lebih penting daripada palatoglosus dan harus diperhatikan pada operasi tonsil agar tidak melukai otot ini. Kedua pilar bertemu diatas untuk bergabung dengan paltum mole. Di inferior akan berpisah dan memasuki jaringan pada dasar lidah dan lateral dinding faring.
Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas kedalam jaringan tonsil. Tonsil tidak mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilaris. Bagian luar tonsil terikat longgar pada muskulus konstriktor faring superior, sehingga tertekan setiap kali makan.
Walaupun tonsil terletak di orofaring karena perkembangan yang berlebih tonsil dapat meluas kearah nasofaring sehingga dapat menimbulkan insufisiensi velofaring atau obstruksi hidung walau jarang ditemukan. Arah perkembangan tonsil tersering adalah kearah hipofaring, sehingga sering menyebabkan sering terjaganya anak saat tidur karena gangguan pada jalan nafas. Secara mikroskopik mengandung 3 unsur utama yaitu:
1) jaringan ikat/trabekula sebagai rangka penunjang pembuluh darah, saraf, dan limfa,
2) folikel germinativum dan sebagai pusat pembentukan sel limfoid muda dan
3) jaringan interfolikuler yang terdiri dari jaringan limfoid dalam berbagai stadium.
Perdarahan tonsil didapatkan dari cabang-cabang arteri karotis eksterna, yaitu
1. Maksilaris eksterna (A. fasialis) dengan cabangnya A. tonsilaris dan A palatina asenden,
2. A maksilaris interna dengan cabangnya A palatina desenden,
3. A lingualis dengan cabangnya A. Lingualis dorsalis,
4. A faringeal asenden. Kutub bawah tonsil bagian anterior diperdarahi oleh A. Lingualis dorsal dan bagian posterior oleh A palatina asenden, diantara kedua daerah tersebut diperdarahi oleh A tonsilaris, kutub atas tonsil diperdarahi oleh A faringeal asenden dan A palatina desenden.
3

Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus dari faring. Aliran balik melalui vena disekitar kapsul tonsil,vena lidah dan pleksus faringeal serta akan menuju v jugularis interna.
Gb1. Perdarahan tonsil
Persarafan tonsil didapat dari serabut saraf trigeminus melalui ganglion sfenopalatina dibagian atas dan saraf glosofaringeus dibagian bawah. Aliran limfe dari dari tonsil akan menuju rangkaian getah bening servikal profunda (deep jugular node) bagian superior dibawah M sternokleidomastoideus, selanjutnya ke kelenjar toraks dan akhirnya menuju duktus torasikus. Tonsil hanya mempunyai pembuluh getah bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak ada.
Struktur histologi tonsil sesuai dengan fungsinya sebagai organ imunologi. Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limposit yang sudah disentisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu:
1) menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif
2) sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.
Indikasi Tonsilektomi
Indikasi tonsilektomi dulu dan sekarang tidak berbeda, namun terdapat perbedaan prioritas relatif dalam menentukan indikasi tonsilektomi pada saat ini. Dulu tonsilektomi di indikasikan untuk terapi tonsilitis kronik dan berulang. Saat ini indikasi utama adalah obstruksi saluran napas dan hipertrofi tonsil. Berdasarkan the American Academy of Otolaryngology- Head and Neck Surgery ( AAO-HNS) tahun 1995 indikasi tonsilektomi terbagi menjadi :
1. Indikasi absolut
a) Pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan napas atas,disfagia berat,gangguan tidur, atau terdapat komplikasi kardiopulmonal
b) abses peritonsiler yang tidak respon terhadap pengobatan medik dan drainase, kecuali jika dilakukan fase akut.
c) Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam
d) Tonsil yang akan dilakukan biopsi untuk pemeriksaan patologi
2. Indikasi relatif
a) Terjadi 3 kali atau lebih infeksi tonsil pertahun, meskipun tidak diberikan pengobatan medik yang adekuat
b) Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak ada respon terhadap pengobatan medik
c) Tonsilitis kronik atau berulang pada pembawa streptokokus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik kuman resisten terhadap β-laktamase.
3. Kontraindikasi
a) Riwayat penyakit perdarahan
b) Resiko anestesi yang buruk atau riwayat penyakit yang tidak terkontrol
c) Anemia
d) Infeksi akut
Teknik operasi
Teknik operasi yang optimal dengan morbiditas yang rendah sampai sekarang masih menjadi kontroversi, masing-masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyembuhan luka pada tonsilektomi terjadi per sekundam. Pemilihan jenis teknik operasi difokuskan pada morbiditas seperti nyeri, perdarahan perioperatif dan pasca operatif serta durasi operasi. Beberapa teknik tonsilektomi dan peralatan baaru ditemukan disamping teknik tonsilektomi standar.
Di Indonesia teknik tonsilektomi yang terbanyak digunakan saat ini adalah teknik Guillotine dan diseksi
1. Guillotine
Tonsilektomi guillotine dipakai untu mengangkat tonsil secara cepat dan praktis. Tonsil dijepit kemudian pisau guillotine digunakan untuk melepas tonsil beserta kapsul tonsil dari fosa tonsil. Sering terdapat sisa dari tonsil karena tidak seluruhnya terangkat atau timbul perdarahan yang hebat.
2. Teknik Diseksi
Kebanyakan tonsilektomi saat ini dilakukan dengan metode diseksi. Metode pengangkatan tonsil dengan menggunakan skapel dan dilakukan dalam anestesi. Tonsil digenggam dengan menggunakan klem tonsil dan ditarik kearah medial, sehingga menyebabkan tonsil menjadi tegang. Dengan menggunakan sickle knife dilakukan pemotongan mukosa dari pilar tersebut.
3. Teknik elektrokauter
Teknik ini memakai metode membakar seluruh jaringan tonsil disertai kauterisasi untuk mengontrol perdarahan. Pada bedah listrik transfer energi berupa radiasi elektromagnetik untuk menghasilkan efek pada jaringan. Frekuensi radio yang digunakan dalam spektrum elektromagnetik berkisar pada 0,1 hingga 4 Mhz. Penggunaan gelombang pada frekuensi ini mencegah terjadinya gangguan konduksi saraf atau jantung.
4. Radiofrekuensi
Pada teknik ini radiofrekuensi elektrode disisipkan langsung kejaringan. Densitas baru disekitar ujung elektrode cukup tinggi untuk membuka kerusakan bagian jaringan melalui pembentukan panas. Selama periode 4-6 minggu, daerah jaringan yang rusak mengecil dan total volume jaringan berkurang.
5. Skapel harmonik

Skapel harmonik menggunakan teknologi ultrasonik untuk memotong dan mengkoagulasi jaringan dengan kerusakan jaringan minimal.
5. Teknik Coblation
Coblation atau cold ablation merupakan suatu modalitas yang unuk karena dapat memanfaatkan plasma atau molekul sodium yang terionisasi untuk mengikis jaringan. Mekanisme kerja dari coblation ini adalah menggunakan energi dari radiofrekuensi bipolar untuk mengubah sodium sebagai media perantara yang akan membentuk kelompok plasma dan terkumpul disekitar elektroda. Kelompok plasma tersebutakan mengandung suatu partikel yang terionisasi dan kandungan plasma dengan partikel yang terionisasi yang akan memecah ikatan molekul jaringan tonsil. Selain memecah ikatan molekuler pada jaringan juga menyebabkan disintegrasi molekul pada suhu rendah yaitu 40-70%, sehingga dapat meminimalkan kerusakan jaringan sekitar.
7. Intracapsular partial tonsillectomy
Intracapsular tonsilektomi merupakan tensilektomi parsial yang dilakukan dengan menggunakan microdebrider endoskopi. Microdebrider endoskopi bukan merupakan peralatan ideal untuk tindakan tonsilektomi, namun tidak ada alat lain yang dapat menyamai ketepatan dan ketelitian alat ini dalam membersihkan jaringan tonsil tanpa melukai kapsulnya.
8. Laser (CO2-KTP)
Laser tonsil ablation (LTA) menggunakan CO2 atau KTP (Potassium Titanyl Phosphat) untuk menguapkan dan mengangkat jaringan tonsil. Tehnik ini mengurangi volume tonsil dan menghilangkan recesses pada tonsil yang menyebabkan infeksi kronik dan rekuren
Komplikasi
Tonsilektomi merupakan tindakan bedah yang dilakukan dengan anestesi lokal maupun umum, sehingga komplikasi yang ditimbulkan merupakan gabungan komplikasi tindakan bedah dan anestesi.
1. Komplikasi anestesi
Komplikasi anestesi ini terkait dengan keadaan status kesehatan pasien. Komplikasi yang dapat ditemukan berupa :
• Laringosspasme
• Gelisah pasca operasi
• Mual muntah
• Kematian saat induksi pada pasien dengan hipovolemi
• Induksi intravena dengan pentotal bisa menyebabkan hipotensi dan henti jantung
• Hipersensitif terhadap obat anestesi.
2. Komplikasi Bedah
a) Perdarahan
Merupakan komplikasi tersering (0,1-8,1 % dari jumlah kasus). Perdarahan dapat terjadi selama operasi,segera sesudah operasi atau dirumah. Kematian akibat perdarahan terjadi pada 1:35. 000 pasien. sebanyak 1 dari 100 pasien kembali karena perdarahan dan dalam jumlah yang sama membutuhkan transfusi darah.
b) Nyeri
Nyeri pasca operasi muncul karena kerusakan mukosa dan serabut saraf glosofaringeus atau vagal, inflamasi dan spasme otot faringeus yang menyebabkan iskemia dan siklus nyeri berlanjut sampai otot diliputi kembali oleh mukosa, biasanya 14-21 hari setelah operasi
c) Komplikasi lain
Dehidrasi,demam, kesulitan bernapas,gangguan terhadap suara (1:10. 000), aspirasi, otalgia, pembengkakan uvula, insufisiensi velopharingeal, stenosis faring, lesi dibibir, lidah, gigi dan pneumonia

tinnitus : penyebab dan pengobatan telinga berdenging

DEFINISI

  • Tinnitus adalah istilah medis dari telinga mendenging yang berasal dari bahasa latin “tinnire” yang artinya “mendenging”. Sangat sering terjadi 10 sampai 15% orang mengalami beberapa tingkat tinnitus.
  • Tinnitus sebenarnya bukanlah penyakit, melainkan gejala awal/symptom yang disebabkan oleh suatu penyakit yang dapat menyebabkan sejumlah kondisi medis, seperti berkurangnya atau hilangnya pendengaran karena faktor usia yang menyebabkan menurunnya kualitas pendengaran, terjadinya kerusakan pada telinga, atau indikasi dari penyakit sistem sirkulasi pada tubuh.
  • Meski tak sampai menganggu penampilan, namun bisa dipastikan bahwa tinnitus menimbulkan ketidaknyamanan serta menghilangkan kosentrasi pada saat melakukan segala macam aktivitas sehingga pada sebagian penderita tinnitus akan mengalami kemunduran kualitas hidup.
  • Pada kebanyakan orang kasus tinnitus dapat diatasi dengan treatment tertentu terutama apabila penyebabnya dapat diketahui sedangkan untuk treatment yang lain hanya dapat meringankan atau memperkecil suara tinnitus sehingga tidak lagi mengganggu aktivitas hidup sehari-hari sehingga penderita tinnitus dapat hidup normal.

PENYEBAB

  • Lebih dari 75% masalah yang berhubungan dengan telinga termasuk tinnitus sebagai sebuah gejala, termasuk luka dari suara gaduh atau ledakan, infeksi telinga, saluran telinga yang tersumbat atau pipa Eustachian, otosclerosis (salah satu jenis kehilangan pendengaran), tumor telinga bagian dalam, dan penyakit meniere. Obat-obatan tertentu (seperti antibiotik aminoglikosid dan aspirin dosis tinggi) juga bisa menyebabkan tinnitus.
  • Tinnitus juga bisa terjadi dengan gangguan dari luar telinga, termasuk anemia, jantung dan gangguan pembuluh darah seperti hipertensi dan arterisclerosis, kelenjar tiroid jinak (hypothyroidism), dan luka kepala. Tinnitus yang hanya pada salah satu telinga atau berdenyut adalah tanda yang lebih serius. Suara bergetar bisa dihasilkan dari tumor tertentu, arteri tersumbat, sebuah pembengkakan pembuluh darah, atau gangguan pembuluh darah lainnya.
  • Pada banyak kasus, pada umumnya penyebab utama yang menyebabkan tinnitus adalah tidak diketahui; akan tetapi pada umumnya kasus yang menyebabkan tinnitus adalah karena adanya kerusakan sel-sel rambut syaraf di telinga.
  • Di dalam telinga, ribuan sel-sel rambut syaraf pendengaran yang menjaga ‘sinyal listrik’ dan rambut mikroskopik membentuk jumbai pada permukaan dari masing-masing sel-sel pendengaran. Saat kondisi normal, rambut-rambut ini bergerak seirama dengan tekanan dari gelombang suara. Pergerakan ini dipicu sel-sel untuk memutus sinyal listrik melalui jaringan syaraf dari pendengaran. Otak akan menerjemahkan sinyal ini sebagai suara.
  • Jika rambut-rambut ini mengalami kerusakan, mereka akan bergerak secara random pada keadaan yang konstan. Karena tidak mampu menahan ‘pengisian listrik’, pada sel-sel pendengaran terjadi kebocoran. Sinyal-sinyal listrik ke otak sebagai bunyi yang amat berisik.

Kerusakan sel-sel pendengaran di dalam telinga bisa disebabkan:

  • Usia. Pertambahan usia secara otomatis akan mengurangi kemampuan pendengaran seseorang.
  • Telinga mengalami trauma sehingga terjadi pengikisan kemampuan pendengaran. Itu sebabnya sangat tidak dianjurkan untuk terlalu sering mendengar suara yang terlalu keras dalam periode yang lama.
  • Efek samping penggunaan obat tertentu dalam waktu yang lama. Seperti penggunaan aspirin, obat untuk malaria atau obat kram pada kaki, antibiotik dan obat anti radang. Biasanya bunyi-bunyian yang mengganggu tersebut akan hilang saat konsumsi obat-obatan tersebut dihentikan.
  • Gangguan pada rahang atau terjadinya perubahan pada tulang pada telinga.
  • Terlalu banyak minum minuman beralkohol.
  • Bergesernya tulang pada telinga bagian tengah berdampak pada pendengaran.
  • Terjadinya trauma akibat benturan pada kepala atau leher yang berdampak pada telinga bagian dalam.
  • Terjadinya kelebihan cairan telinga (congek) karena menderita infeksi telinga.
  • Menderita tekanan darah tinggi.
  • Adanya tumor pada kepala atau leher.

GEJALA

  • Suara gaduh yang terdengar oleh orang yang menderita tinnitus bisa jadi berdengung, berdering, meraung, bersiul, atau suara berdesis. Beberapa orang mendengar suara yang rumit yang naik turun setiap waktu. Suara ini lebih jelas di lingkungan yang sunyi dan ketika seseorang tidak konsentrasi pada hal tertentu. Maka, tinnitus cenderung lebih mengganggu orang ketika mereka berusaha untuk tidur. Bagaimanapun, pengalaman tinnitus adalah sangat individual ; beberapa orang sangat terganggu dengan gejala-gejalanya, dan orang yang lainnya sungguh dapat bertahan.
  • Gejala tinnitus dapat dikelompokkan sebagai berikut :
    • Penderita mengalami gangguan seolah suara-suara tersebut ditimbulkan dari luar telinga padahal justru sebaliknya. Suara-suara tersebut berasal dari dalam telinga sendiri.
    • Telinga terdengar berisik, seperti berdenging, berdengung, menderum, atau mendesis.
    • Bunyi-bunyian yang terdengar bisa bervariasi mulai pelan sampai memekakkan telinga.
    • Dari hari ke hari pendengaran semakin berkurang hingga akhirnya menghilang sama sekali.

DIAGNOSA

  • Bila seseorang yang menderita tinnitus biasanya kehilangan pendengaran, melalui test pendengaran dilakukan sebaik mungkin sebagaimana magnetic resonance imaging (MRI) pada kepala dan computed tomography (CT) pada tulang rawan (tulang tengkorak yang mengandung bagian pada saluran telinga, telinga bagian tengah, dan telinga bagian dalam).

KOMPLIKASI

  • Tinnitus secara signifikan dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang, dimana dampak dari tinnitus untuk setiap orang berbeda-beda tetapi berkaitan erat dengan hal-hal dibawah ini :
    • Fatique (Kelelahan Kronis).
    • Stress (stres).
    • Sleep problems (insomnia/susah tidur).
    • Trouble concentrating (susah berkonsentrasi).
    • Memory problems (menurunnya daya ingat).
    • Depression (depresi).
    • Anxiety and irritability (Kekuatiran yang berlebihan).

PENGOBATAN

  • Upaya untuk mendeteksi dan mengobati penyebab gangguan tinnitus seringkali tidak berhasil. Berbagai teknik bisa membantu meredam tinnitus, meskipun kemampuan untuk meredam hal itu berbeda dari orang ke orang.  Banyak orang menemukan keringanan dengan memainkan musik merdu untuk menyembunyikan tinnitus. Beberapa orang menggunakan topeng (masking) tinnitus, sebuah alat yang dikenakan seperti Alat Bantu Dengar yang menghasilkan tingkat tetap pada suara netral. Untuk orang yang sangat tuli, sebuah cochlear yang ditanam dalam telinga bisa mengurangi tinnitus.

GAYA HIDUP YANG HARUS DILAKUKAN OLEH PENDERITA TINNITUS
Hal-hal yang perlu dilakukan ataupun dihindari apabila anda terkena tinnitus permanen :

  • Hindari suara keras, alkohol, rokok, dan teh atupun stimulan laennya.
  • Untuk menutup suara dari bunyi yang disebabkan oleh tinnitus yaitu dapat menyetel radio ataupun mendengarkan music.
  • Olah raga secara teratur.
  • Lakukan YOGA ataupun MEDITASI apabila anda memiliki waktu luang.
  • Jangan mengkorek-korek telingan terlalu dalam.

 

Pada kasus Tinnitus yang diderita seorang pasien, sudah 95% sembuh dari tinnitus, sebagai alternatif tambahan yang dilakukan sampai saat ini adalah :

  • Dan yang terpenting adalah anda harus yakin bahwa anda akan sembuh dan memohon kepada Tuhan untuk bantuannya.
  • Bagi anda yang terkena tinnitus pada tahap awal sebaiknya konsultasikan dahulu kepada dokter THT yang berpengalaman sehingga dapat diambil langkah-langkah terapi ataupun pengobatan yang perlu dilakukan. Sebelumnya pasien juga pernah melakukan pengobatan alternatif akupuntur ataupun hypnotherapy, tetapi saat ini pasien sudah tidak melakukannya lagi.

  • Sebuah alat audio untuk terapi tinnitus, tengah diujicobakan pada tentara Amerika yang baru saja kembali dari Afghanistan dan Irak. Percobaan dengan alat yang dinamakan Oasis buatan Neuromonics ini disponsori oleh angkatan darat Amerika.
  • Hasil studi evaluasi terapi tinnitus tersebut, selanjutnya dapat dipakai untuk melakukan konseling pada anggota militer yang masih aktif bertugas. Instalasi militer besar juga diharapkan turut serta dalam percobaan ini. Studi lebih lanjut diupayakan untuk mengetahui alat tinnitus yang digunakan untuk kasus tertentu lain, seperti penggunaan alat pada mereka yang mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) atau traumatic brain injury (TBI)
  • Terapi Tinnitus Neuromonics saat ini tengah digunakan pada 30 veteran dan 6 center Departemen Pertahanan. Alat ini merupakan alat non invasif yang kompak untuk memberikan stimulus saraf akustik. Alat Neuromonics dapat disesuaikan pada tiap profil audiologi pasien dan memrosesnya secara khusus juga dapat memainkan musik yang membuat rileks. Setelah menjalani pemeriksaan klinis, pasien diminta mendengarkan ‘bunyi’ dari alat tersebut setiap hari selama lebih dari enam bulan.
  • Stimulus dirancang untuk memberikan rasa lega dan rileks pada fase awal terapi dan dilanjutkan selama beberapa bulan berikutnya. Dengan cara ini, maka subyek dapat menghilangkan persepsi bahwa penggunaan tinitus akan mengganggu akibat perhatian subyek yang selalu tertuju pada penggunaan alat ini.