Tinnitus dan Psikis, sangat terkait.

Sebagai dokter spesialis THT yang sudah berpuluh tahun praktek, menghadapi pasien Tinnitus adalah “SESUATU“.

Let’s get started. 
Tinnitus adalah suatu gejala berupa mendengar bunyi tanpa sumber bunyi. Bila kurang dari 5 menit, misalnya saat di ruangan sepi dan saat di dalam lift terdengar denging, maka itu masih normal. Tetapi bila tinnitus terdengar berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun tahun maka itu sudah pasti tidak normal.
Should you see ENT doctors ? Off course dear.

Ruang Praktek

 

  1. Telinga kotor bisa mengakibatkan denging  and very easy to solve. Membersihkan kotoran telinga yang membatu semudah membalikkan telapak tangan bagi dokter THT, namun jangan sekali kali diusaha-usahan sendiri. Kotoran akan makin masuk dan makin padat, bisa juga terluka dan bengkak, nyeri jadinya. “Dont talk about money”. Menemui dokter THT periksa dan mendapatkan tindakan profesional tidak harus pakai uang, bisa pakai BPJS. Jangan jadikan alasan uang sebagai penyebab tidak mau periksa. 
  2. Infeksi pada telinga. Infeksi pada telinga luar (otitis externa), telinga tengah (otitis media) dan masalah pada telinga dalam bisa menjadi penyebab tinnitus juga. Dan menyelesaikan ini juga porsinya dokter THT. Jangan dikarang-karang sendiri dan berusaha-berusaha sendiri, you don’t have any competency on these. 
  3. Gangguan metabolik. Penyakit seperti Hipertensi, hipotensi, diabetes melitus, atau hipoglikemi, gangguan lipid darah, bisa mengakibatkan aliran oksigen dan nutrisi via aliran darah ke mesin pendengaran (cochlea) terganggu. Keruskan cochlea akan berakibat gangguan pendengaran dan ketulian bila tidak disegerakan diatasi. Lebih dari 1 bulan tinnitus akibat gangguan metabolik ini bisa berakibat tinntus permanen. Apa artinya permanen ? Berobat ke Amerika pun sudah tidak bisa sembuh. And then you have to “BERSAHABAT dengan DENGING”.
  4. Stroke atau gangguan aliran darah ke cortex otak bagian pendengaran juga mengakibatkan tinnitus. 
  5. Psikis. Memang masalah psikis ini sering dianggap hal abstrak yang sulit di hubungkan secara langsung dengan telinga mendenging. Tapi apakah anda sadar lebih dari 50 % pasien tinnitus secara metabolik, infeksi atau kotor telinga tidak ditemukan penyebabnya? Lalu apa dong penyebabnya? PSIKIS boss ! Apa lagi setelah terkena tinnitus, gangguan dengingnya itu sendiri menambah stress penderita. Betapa “lingkaran setan“.

Priinsipnya ini saya akan berusaha memutus “lingkaran setan” tadi, saya akan berusaha agar psikis sebagai sebab, tidak berlanjut menjadi denging permanen. Bila denging sudah permanen saya akan berusaha agar dengingnya tidak mengakibatkan stress berkepanjangan. Bukankah hal ini bisa mengurangi pengeluaran “biaya mengobati” yang tidak ada hasilnya ?

Sebagai dokter THT berkompetenkah saya mengobati masalah psikis, ada namanya Cognitive Behavioral Therapy, saya akan gunakan teknik ini. 

Dokter THT dengan pengetahuan akan seluk beluk tinnitus, sangat bisa memberikan pengertian pada pasien bahwa apa yang dia derita itu tidak berbahaya. Akankah Dokter THT bisa mengikis habis “bawah sadar” pasien yang selalu merasa bahwa tinnitus ini penyakit “apes”? Bisa, karena ini bukan penyakit apes sama sekali.

Apa itu Cognitive Behavioral Therapy (CBT) ?
Teknik CBT ini sering digunakan untuk mengatasi gangguan kecemasan seperti  SAD (Social anxiety disorder), GAD (generalized anxiety disorder), fobia, dan gangguan panik.

Selanjutnya saya akan melakukan psikoterapi terhadap pasien tinnitus dan GERD dengan teknik psikoterapi CBT ( Cognitive Behavioral Therapy ).

Pengelolaan Kurang Pendengaran pada Anak

Gangguan pendengaran dianggap sebagai kelainan bawaan yang banyak terjadi pada bayi baru lahir.  Kurang pendengaran bisa disebabkan karena faktor sebelum persalinan, saat persalinan dan pasca persalinan. Kelainan genetik, trauma atau penyakit viral bisa juga sebagai penyebab. Gangguan pendengaran mungkin pra-lingual (yaitu, terjadi sebelum bisa berbicara dan berbahasa) atau pasca-lingual (yaitu, terjadi setelah bisa bicara dan berbahasa).

Usia 3-5 tahun sering dianggap sebagai “masa kritis” bagi perkembangan bicara yang normal dan bahasa. Pendengaran normal dalam enam bulan pertama kehidupan juga dianggap penting untuk kemampuan bicara dan bahasa yang normal. Oleh karena itu, identifikasi awal dan intervensi yang tepat dalam enam bulan pertama kehidupan sangat penting untuk mencegah  konsekuensi kurang pendengaran yang merugikan kemampuan berbahasa. Di negara-negara maju dengan standar tinggi perawatan kesehatan, pelayanan dasar meliputi deteksi dini gangguan pendengaran bawaan dan inisiasi habilitasi pendengaran sebelum usia enam bulan.

Perkembangan keterampilan komunikasi oleh orang dengan gangguan pendengaran sangat berpengaruh terhadap kepribadian, kecerdasan. Onset memainkan peran penting dalam perkembangan bahasa. Orang dengan gangguan pendengaran pra-lingual (hadir sejak lahir atau terjadi sebelum akuisisi bahasa dan pengembangan pola bicara) lebih fungsional cacat daripada mereka yang kehilangan pendengaran setelah akuisisi bahasa dan bicara.

Gangguan pendengaran, dibedakan atas :

1. Jenis gangguan pendengaran (bagian dari mekanisme pendengaran yang terpengaruh yaitu hantaran atau sensorineural ).

2. Derajat gangguan pendengaran (jangkauan atau intensitas volume suara yang tidak terdengar).

3. Konfigurasi ( frekuensi di mana kurang pendengaran terjadi).

Habilitasi pendengaran (memberikan fungsi pendengaran yang seharusnya dimiliki seseorang) ditujukan untuk bayi / anak yang belum memiliki kemampuan/ pengalaman mendengar sebelumnya. Dilakukan bila sudah dipastikan mengalami ketulian. Program ini berupa

(1) amplifikasi ( memperkeras input suara) misalnya melalui berbagai pilihan (alat bantu dengar (hearing aid) bila tidak berhasil perlu dipertimbangkan implantasi koklea ( memasukkan kabel elektroda ke dalam rumah siput/koklea, melalui operasi).

(2) Auditory training(latihan mendengar) dan

(3) Latihan Wicara (pilihan :Speech therapy, Auditory Verbal Therapy, Sensory Integration).

Deteksi dini gangguan pendengaran pada bayi sudah DIMULAI SEJAK USIA 2 HARI ( sebelum keluar dari RS), bila hasilnya refer (gagal) atau ada faktor risiko (misalnya lahir kuning, berat badan kurang dari 1500 gr, waktu hamil ibu mengalami infeksi toksoplasma atau Rubela) perlu pemeriksaan pendengaran lanjutan pada usia 1 dan 3 bulan. Pada USIA 3 BULAN SUDAH HARUS DIPASTIKAN ADA/TIDAKNYA GANGGUAN PENDENGARAN sehingga HABILITASI SUDAH DIMULAI SEBELUM USIA 6 BULAN. dengan habilitasi yang baik diharapkan KEMAMPUAN WICARA PADA SAAT USIA 3 TAHUN BISA MENDEKATI ANAK NORMAL.

Pemeriksaan pendengaran HARUS menggunakan cara cara yang obyektif ( sensitivitas mendekati 100%) yaitu Oto Acoustic Emission (OAE) dan BERA ( Brainstem Evoked response Audiometry) . OAE untuk menentukan fungsi sensor bunyi rumah siput pada ( usia 2 hari , 1 dan 3 bulan). BERA utk menentukan menilai reaksi saraf pendengaran terhadap bunyi dari luar ( diperiksa saat usia 1- 3 bulan). Skrining pendengaran secara masal dan berkala juga dilakukan pada murid sekolah dan pekerja industry (risiko terpapar bising) dengan tehnik/ metode berbeda (dengan bayi/ anak).

sebagian dikutip dari : http://akrab.or.id/?page_id=146

Menilai Derajat Ketulian

Kurang pendengaran itu tidak harus tuli total. Tidak bisa mendengar suara bisikan, sudah bisa di sebut sebagai kurang pendengaran derajat ringan.

Apabila anda melihat audigram (grafik dari test audiometri), jika garis biru dan merah anda berada di antara 0-20dB, maka pendengaran anda normal.

dibawah ini adalah level (derajat) dari ketulian :
20-40 dB maka pasien ini tidak mampu mendengar bisikan (derajat ringan)
41-70 dB maka pasien ini tidak dapat mendengar suara percakapan (derajat sedang)

71-95 dB maka pasien ini tidak dapat mendengar teriakan (derajat berat)

> 95 dB maka pasien ini bahkan tidak dapat mendengar suara ledakan bom (tuli total)

Bila ada dalam lingkungan anda pasien dengan ketulian yang ringan sekalipun, bawa dia untuk diperiksakan, intinya utuk dicegah agar ketuliannya tidak memberat dan segera bisa dikembalikan ke pendengaran normal.

Kalau derajatnya sedang ? Apalagi itu, “cepetan” adalah kata yang seharusnya ada di pikiran anda.

Kalau derajat berat atau tuli total ? Ada yang namanya sudden deafness, tuli mendadak yang bisa disebabkan karena virus dimana masih mungkin diselamatkan pendengaran dengan pengobatan.

Intinya jangan sampai pendengaran anda berada di titik ketulian permanen akibat keterlambatan penanganan, yang dengan kata lain, kalau sudah terlanjur tuli permanen, berobat ke Amerikapun tidak sembuh.

Nanti kita akan bicara tentang ketulian pada anak, yang tentu saja pengelolaannya berbeda dengan ketulian pada dewasa. Beda mengelola yang sebelumnya belum bisa mendengar dan yang sudah pernah bisa mendengar juga berkata-kata.

TUMOR GANAS LARING

T. SITI HAJAR HARYUNA
Bagian Patologi Anatomi
Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN

  Tumor ganas laring bukanlah hal yang jarang ditemukan di bidang THT.
Sebagai gambaran, diluar negeri tumor  ganas laring menempati urutan  pertama
dalam urutan keganasan di  bidang THT, sedangkan di RSCM menempati urutan
ketiga setelah karsinoma nasofaring, tumor ganas hidung dan sinus paranasal.1
  Tumor Ganas laring lebih sering  mengenai laki-laki dibanding perempuan,
dengan perbandingan 5 : 1. Terbanyak pada usia 56-69 tahun.1,2
  Etiologi pasti sampai saat ini belum diketahui, namun didapatkan beberapa
hal yang berhubungan erat dengan terjadinya keganasan laring  yaitu : rokok,
alkohol, sinar radioaktif, polusi udara radiasi leher dan asbestosis.1,3
Untuk menegakkan  diagnosa tumor ganas laring masih  belum memuaskan,
hal ini disebabkan antara lain karena letaknya dan sulit untuk dicapai sehingga
dijumpai bukan pada stadium awal lagi. Biasanya pasien datang dalam keadaan yang
sudah  berat sehingga  hasil pengobatan yang diberikan kurang memuaskan. Yang
terpenting pada penanggulangan tumor ganas laring ialah diagnosa dini.1,4,5
Secara umum penatalaksanaan tumor ganas laring adalah dengan
pembedahan, radiasi, sitostatika ataupun kombinasi daripadanya, tergantung
stadium penyakit dan keadaan umum penderita.1,6
ANATOMI7,8,9
  Laring dibentuk oleh sebuah tulang di bagian atas dan beberapa tulang rawan
yang saling berhubungan satu sama lain dan diikat oleh otot intrinsik dan ekstrinsik
serta dilapisi oleh mukosa.
Tulang dan tulang rawan laring yaitu :
1.  Os Hioid: terletak paling atas, berbentuk huruf  “U”, mudah diraba pada  leher
bagian depan. Pada kedua sisi tulang  ini terdapat prosesus longus dibagian
belakang dan prosesus brevis bagian depan. Permukaan bagian atas tulang ini
melekat pada otot-otot lidah, mandibula dan tengkorak.
2.  Kartilago tiroid : merupakan tulang rawan  laring yang terbesar, terdiri dari dua
lamina yang bersatu di bagian depan dan mengembang ke arah belakang.
3.  Kartilago Krikoid : terletak di belakang kartilago tiroid  dan merupakan tulang
rawan paling bawah  dari laring. Di setiap sisi  tulang  rawan krikoid  melekat
ligamentum krikoaritenoid, otot krikoaritenoid lateral dan di bagian belakang
melekat otot krikoaritenoid posterior.
Otot-otot laring terdiri dari 2 golongan besar, yaitu :
1.  Otot-otot ekstrinsik :
Otot elevator :
-  M. Milohioid, M. Geniohioid, M. Digrastikus dan M. Stilohioid
Otot depressor :
– M. Omohioid, M. Sternohioid dan M. Tirohioid

Otot-otot Intrinsik :
Otot Adduktor dan Abduktor :
-  M. Krikoaritenoid, M. Aritenoid oblique dan transversum
Otot yang mengatur tegangan ligamentum vokalis :
-  M. Tiroaritenoid, M. Vokalis, M. Krikotiroid
Otot yang mengatur pintu masuk laring :
-  M. Ariepiglotik, M. Tiroepiglotik.
KEKERAPAN
  Kekerapan tumor ganas laring di beberapa tempat di dunia ini berbeda-beda.
Di Amerika Serikat pada tahun 1973 – 1976 dilaporkan 8,5 kasus karsinoma  laring
per 100.000 penduduk laki-laki dan 1.3  kasus  karsinoma laring per 100.000
penduduk perempuan. Pada akhir-akhir ini tercatat insiden tumor ganas laring pada
wanita meningkat. Ini dihubungkan dengan meningkatnya jumlah wanita  yang
merokok.9,10
Di RSUP H. Adam Malik Medan, Februari 1995 – Juni 2003 dijumpai 97 kasus
karsinoma laring dengan perbandingan laki  dan perempuan 8 : 1. Usia penderita
berkisar antara 30 sampai 79 tahun. Dari Februari 1995 – Februari 2000, 28 orang
diantaranya telah dilakukan operasi laringektomi total.
ETIOLOGI
  Penyebab pasti sampai saat ini belum diketahui, namun didapatkan beberapa
hal yang berhubungan erat dengan terjadinya keganasan laring  yaitu : rokok,
alkohol, sinar radio aktif, polusi udara, radiasi leher dan asbestosis. Ada peningkatan
resiko terjadinya tumor ganas laring pada pekerja-pekerja yang terpapar dengan
debu kayu.1,3,9,10,11
HISTOPATOLOGI
  Karsinoma sel skuamosa meliputi 95 – 98% dari semua tumor ganas laring,
dengan  derajat difrensiasi yang berbeda-beda. Jenis lain yang jarang kita jumpai
adalah karsinoma anaplastik, pseudosarkoma, adenokarsinoma dan sarkoma.
2,10
  Karsinoma Verukosa. Adalah satu tumor yang secara histologis
kelihatannya jinak, akan tetapi klinis ganas. Insidennya 1 – 2% dari seluruh tumor
ganas laring, lebih banyak mengenai pria  dari wanita  dengan  perbandingan  3 : 1.
Tumor tumbuh lambat tetapi dapat membesar sehingga dapat menimbulkan
kerusakan lokal yang luas.  Tidak terjadi metastase regional atau jauh.
Pengobatannya dengan operasi, radioterapi tidak efektif dan merupakan
kontraindikasi. Prognosanya sangat baik.2,12
  Adenokarsinoma. Angka insidennya 1% dari seluruh tumor ganas laring.
Sering dari kelenjar mukus  supraglotis dan subglotis dan  tidak pernah dari glottis.
Sering bermetastase ke paru-paru dan hepar. two years survival  rate-nya sangat
rendah. Terapi yang dianjurkan adalah reseksi radikal dengan diseksi kelenjar  limfe
regional dan radiasi pasca operasi.12
  Kondrosarkoma. Adalah tumor ganas yang berasal dari tulang rawan krikoid
70%, tiroid 20% dan aritenoid 10%. Sering pada laki-laki 40 – 60 tahun. Terapi yang
dianjurkan adalah laringektomi total.12
KLASIFIKASI1-10
  Berdasarkan Union International Centre le Cancer (UICC) 1982, klasifikasi dan
stadium tumor ganas laring terbagi atas :
1.  Supraglotis
2.  Glotis
3.  Subglotis
Yang termasuk supraglotis adalah : permukaan posterior epiglotis  yang terletak di
sekitar os hioid, lipatan ariepiglotik, aritenoid, epiglotis yang  terletak di bawah os
hioid, pita suara palsu, ventrikel.
Yang termasuk glottis  adalah :  pita suara  asli, komisura anterior dan komisura
posterior.
Yang termasuk subglotis adalah : dinding subglotis.

Klasifikasi dan stadium tumor berdasarkan UICC :
1.  Tumor primer (T)
Supra glottis :
T is  : tumor insitu
T 0  :  tidak jelas adanya tumor primer l
T 1    : tumor terbatas di supra glotis dengan pergerakan normal
T 1a  :  tumor terbatas pada  permukaan laring epiglotis, plika ariepiglotika,
ventrikel atau pita suara palsu satu sisi.
T 1b  :  tumor telah mengenai epiglotis dan meluas ke rongga ventrikel atau
pita suara palsu
T 2  :  tumor telah meluas ke glotis tanpa fiksasi
T 3  :  tumor terbatas pada laring dengan fiksasi dan / atau adanya infiltrasi
ke dalam.   
T 4  :  tumor dengan penyebaran langsung sampai ke luar laring.
Glotis :
T is  :  tumor insitu
T 0  : tak jelas adanya tumor primer
T 1  :  tumor terbatas pada pita suara  (termasuk  komisura anterior dan
posterior) dengan pergerakan normal
T 1a   :  tumor terbatas pada satu pita suara asli
T 1b  :  tumor mengenai kedua pita suara
T 2  :  tumor terbatas di laring dengan perluasan daerah supra glotis
maupun subglotis dengan pergerakan pita suara normal atau
terganggu.
T 3  :  tumor terbatas pada laring dengan fiksasi dari satu atau ke dua pita
suara
T 4   :  tumor dengan perluasan ke luar laring
Sub glotis :
T is  :  tumor insitu
T 0  : tak jelas adanya tumor primer
T 1  :  tumor terbatas pada subglotis
T 1a   :  tumor terbatas pada satu sisi
T 1b  :  tumor telah mengenai kedua sisi
T 2  :  tumor terbatas di laring dengan perluasan pada satu atau kedua pita
suara asli dengan pergerakan normal atau terganggu
T 3  :  tumor terbatas pada laring dengan fiksasi satu atau kedua pita suara
T 4   :  tumor dengan kerusakan tulang rawan dan/atau meluas keluar
laring.

2.  Pembesaran kelenjar getah bening leher (N)
N x  : kelenjar tidak dapat dinilai
N 0  :  secara klinis tidak ada kelenjar.
N 1   :  klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter ≤ 3 cm
N 2  :  klinis terdapat kelenjar homolateral dengan  diameter >3 – <6 cm
atau klinis terdapat kelenjar homolateral multipel dengan diameter ≤
6 cm
N 2a  :  klinis terdapat satu kelenjar homolateral dengan diameter > 3 cm – ≤
6 cm.
N 2b  :  klinis terdapat kelenjar homolateral multipel dengan diameter ≤  6 cm
N 3   :  kelenjar homolateral yang masif, kelenjar bilateral atau kontra lateral
N 3 a  :  klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter > 6 cm
N 3 b  :  klinis terdapat kelenjar bilateral
N 3 c  : klinis hanya terdapat kelenjar kontra lateral

3.  Metastase jauh (M)
M 0  :  tidak ada metastase jauh
M 1  :  terdapat metastase jauh
4.  Stadium :
Stadium I    : T1 N0 M0
Stadium II  : T2 N0 M0
Stadium III  : T3 N0 M0
        T1, T2, T3,     N1,     M0
Stadium IV  : T4, N0, M0
        Setiap T, N2, M0,      setiap T, setiap N , M1

GEJALA DAN TANDA
Gejala dan tanda yang sering dijumpai adalah :1-3,15
•  Suara serak
•  Sesak nafas dan stridor
•  Rasa nyeri di tenggorok
•  Disfagia
•  Batuk dan haemoptisis
•  Pembengkakan pada leher

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :1-3,15
1.  Anamnese
2.  Pemeriksaan THT rutin
3.  Laringoskopi direk
4.  Radiologi foto polos leher dan dada
5.  Pemeriksaan radiologi khusus : politomografi, CT-Scan, MRI
6.  Pemeriksaan hispatologi dari biopsi laring sebagai diagnosa pasti

DIAGNOSA BANDING
  Tumor ganas faring dapat dibanding dengan : 
1.  TBC laring
2.  Sifilis laring
3.  Tumor jinak laring.2,7
4.  Penyakit kronis laring

PENGOBATAN
  Secara umum ada 3 jenis penanggulangan karsinoma  laring yaitu
pembedahan, radiasi dan sitostatika, ataupun kombinasi     daripadanya.
1-3,8,10,11,13-16

I. PEMBEDAHAN
  Tindakan operasi untuk keganasan laring  terdiri dari :8,9,15,16

A. LARINGEKTOMI
1.  Laringektomi parsial
Laringektomi parsial diindikasikan  untuk karsinoma laring stadium I yang tidak
memungkinkan dilakukan radiasi, dan tumor stadium II.
2.  Laringektomi total
Adalah tindakan pengangkatan seluruh struktur laring mulai dari batas atas
(epiglotis dan os hioid) sampai batas bawah cincin trakea.

B. DISEKSI LEHER RADIKAL
  Tidak dilakukan pada tumor glotis stadium dini (T1 – T2) karena
kemungkinan metastase ke kelenjar  limfe leher sangat rendah. Sedangkan tumor
supraglotis, subglotis dan tumor glotis  stadium lanjut sering kali mengadakan
metastase ke kelenjar limfe  leher sehingga  perlu dilakukan tindakan diseksi leher.
Pembedahan ini tidak disarankan bila telah terdapat metastase jauh.2,10

II. RADIOTERAPI 
  Radioterapi digunakan untuk mengobati  tumor glotis dan supraglotis T1 dan
T2 dengan hasil yang baik (angka kesembuhannya 90%). Keuntungan dengan cara
ini adalah laring tidak cedera sehingga suara masih dapat dipertahankan. Dosis yang
dianjurkan adalah 200 rad perhari sampai dosis total 6000 – 7000 rad.2,10
  Radioterapi dengan dosis menengah telah pula dilakukan oleh Ogura, Som,
Wang, dkk, untuk tumor-tumor tertentu.  Konsepnya adalah untuk memperoleh
kerusakan  maksimal dari tumor tanpa kerusakan yang tidak dapat disembuhkan
pada jaringan yang melapisinya.  Wang dan  Schulz memberikan 4500–5000  rad
selama 4–6 minggu diikuti dengan laringektomi total.2

III. KEMOTERAPI
  Diberikan pada tumor stadium lanjut, sebagai terapi adjuvant ataupun
paliativ. Obat yang diberikan adalah cisplatinum 80–120 mg/m2
dan 5 FU 800–1000 mg/m2.3

REHABILITASI
  Rehabilitasi setelah operasi sangat  penting karena telah diketahui bahwa
tumor ganas laring yang diterapi dengan  seksama memiliki prognosis yang baik.
rehabilitasi mencakup  :  “Vocal Rehabilitation, Vocational Rehabilitation  dan  Social
Rehabilitation”.3

PROGNOSA
  Tergantung dari stadium tumor, pilihan pengobatan, lokasi tumor dan
kecakapan  tenaga ahli. Secara umum dikatakan five years survival pada karsinoma
laring stadium I 90 – 98% stadium II 75 – 85%, stadium III 60 – 70% dan stadium
IV 40 – 50%. Adanya metastase ke kelenjar limfe regional akan menurunkan 5 year
survival rate sebesar 50%.2,7,12

LAPORAN KASUS
Seorang  pasien laki-laki, MS, umur 49 tahun datang ke IGD RSUP H. Adam Malik
tgl. 07-10-2003 dengan keluhan utama tidak bisa mengeluarkan suara. Hal ini sudah
dialami os  sejak 1 minggu yang  lalu. Riwayat suara serak (+) sejak 2 tahun yang
5lalu, batuk-batuk (+), dahak  (-), sesak nafas (+) sejak 5 bulan yang lalu sebelum
dilakukan trakeostomi. Sebelumnya os di Opname di RS Pirngadi selama 4 hari dan
dilakukan tindakan trakeostomi karena sesak dan  dinyatakan ada tumor di laring.
Riwayat merokok (+)  ± 2 bungkus dalam 1 hari. Riwayat  minum-minuman
beralkohol (-).
•  Pemeriksaan Fisik
Sensorium    : Compos Mentis
Tekanan darah    : 130/80 mmHg
Nadi    : 90x/i 
Frekuensi pernafasan  : 25x/i
Temperatur   : 370

•  Pemeriksaan THT rutin
-  Telinga    : tidak ada kelainan
-  Hidung     : tidak ada kelainan
-  Tenggorokan  : trakeostomi (+)
•  Diagnosis Sementara  : Suspect tumor laring
•  Terapi   : – IVFD RL s/s Dextrose 5% 20 gtt/I
  – Ampicilin 1 gr / 6 jam
  – Gentamycin 80 mg / 8 jam
•   Rencana :  1. Mikrolaringoskopi optik + biopsi
  2. Periksa laboratorium darah lengkap
  3. Rontgen foto thorax dan EKG
  4. Konsul Penyakit Dalam
  5. Konsul Anestesi
08-10-2003
Pkl : 04.00 WIB
Keluhan : sesak nafas (trakeostomi terpasang)
Vital sign :
TD  : 130/80 mmHg
N : 90 x/i
RR : 30 x/I
Terapi     :  – Bersihkan trakeostomi dengan suction Î sputum (-)
      – IVFD RL s/s Dextrose 5% 20 gtt/i
      – Ampicilin 1 gr / 6 jam
      – Gentamycin 80 mg / 8 jam
      – Dexamethason 1 amp / 8 jam Æ hanya 1 hari saja
11-10-2003
Hasil Laringoskopi Optik :
-  Tampak massa memenuhi supraglotik. Massa merah dan berbenjol-benjol
-  Pita suara tidak dapat dinilai
-  Epiglotis : normal
Rencana    :   -  CT – Scan 
  -  Mikrolaring biopsi Î persiapan darah lengkap, EKG & Foto thorax
13-10-2003
Hasil Pemeriksaan Laboratorium : dalam batas normal
14-10-2003 
  6Hasil pemeriksaan :
-  Foto thorax  : kesan  : tidak dijumpai metastasis paru
-  EKG   : Kesan : Old myocard infark inferior
-  CT- Scan  : tidak dilakukan karena pasien t.a.u
16-10-2003
Hasil konsul interna : tidak ada kontra indikasi untuk dilakukan anestesi umum.
Konsul anastesi : ACC dengan anestesi umum
27-10-2003
Dilakukan operasi mikrolaring + biopsi
Tampak epiglotis oedem dan  hyperemis. Lalu epiglotis diangkat ke atas tampak
massa merah berulkus memenuhi daerah supraglotis
Hasil Pemeriksaan Histopatologi No. PA/B/1462/03, Lokasi : Supra glotik
Makroskopik   :  diterima 2 potong jaringan ukuran seujung beras, konsistensi kenyal
warna abu-abu.
Mikroskopik   :  sediaan tampak jaringan dilapisi epitel dengan inti disorganisasi
pleomorfik, kromatin kasar, sitoplasma sedikit, stroma jaringan ikat.
Kesimpulan :  karsinoma sel skuamous non keratinizing.
30-10-2003
Pasien dikonsulkan ke Sub. Bagian Onkologi THT untuk ambil alih untuk penanganan
selanjutnya.
Oleh Sub. Bagian Onkologi, pasien dianjurkan untuk dilakukan Radiotherapy.
DISKUSI
  Tumor ganas laring merupakan keganasan yang sering dijumpai di bidang
THT. Hal-hal yang saling mempengaruhi kesembuhan penyakit ini antara  lain
kecepatan dan  ketepatan diagnosa, penentuan stadium  tumor, fasilitas dan sarana
yang ada, kondisi pasien serta pilihan pengobatan yang diberikan.
  Pada pasien ini, keluhan yang pertama kali muncul adalah suara serak sejak
dua tahun  lalu, sehingga tumor primer diduga berasal dari daerah glotis. Karena
secara klinis tidak dijumpai pembesaran kelenjar, maka pasien  ini diduga berada
pada stadium II (T2, N0, M0).
  Secara umum penatalaksanaan  tumor ganas laring adalah pembedahan,
radiasi, sitostatika maupun kombinasi daripadanya. Pilihan terbaik untuk pasien ini
adalah radiasi, karena hasil biopsi dari tumor menunjukkan karsinoma sel skuamous
non keratinizing yang bersifat radio sensitif. Keuntungan lain dari radiasi adalah
laring tidak cedera sehingga suara masih dapat dipertahankan. Rehabilitasi setelah
operasi dengan terapi yang seksama memiliki prognosis yang baik. Kerjasama yang
baik dari ahli onkologi, ahli patologi, ahli radiasi onkologi sangatlah diperlukan untuk
memberikan kesembuhan yang optimal. 
KESIMPULAN
  Telah dilaporkan satu kasus tumor  ganas laring yang sudah  dilakukan
mikrolaringoskopi optik + biopsi.

DAFTAR PUSTAKA
1.  Hermani B. Abdurrahman H. Tumor laring. Dalam Soepardi EA, Iskandar N Ed.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher. Edisi
ke-5. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. 2001. h. 156-62.
2.  Spector, Ogura JH. Tumor Laring dan Laringofaring.  Dalam. Ballenger JJ,  Ed.
Penyakit Telinga Hidung Tenggorok, Kepala dan Leher. Jilid I. Edisi ke-13. Jakarta
: Binarupa Aksara. 1997. h. 621-77.
3.  Ramalingam KK, Sreeramamoorthy B. A. Short Practice of Otolaryngylogy India :
All  Publisher & Disatributor, 1993. h. 335-43.
4.  Basyiruddin H. Penanggulangan  Karsinoma Laring di Bagian THT RSAPD Gatot
Subroto. Disampaikan pada Kongres Nasional Perhati. Ujung Pandang, 1986. h.
185-93.
5.  Mulyarjo. Hasil Pembedahan pada Karsinoma Laring di UPF THT RSUD DR.
Sutomo Surabaya. Disampaikan pada Kongres Nasional Perhati, Batu Malang, 27-
29 Oktober 1996. h. 1075-9.
6.  Adam GL., IR, Paparella MW. Fundamental of Otolaryngology. Edisi ke-5 ed.
Philadelphia WB. Saunders, 1978. h. 446-7.
7.  Becker W,  Naumann HH, Pfaltz CR. Ear Nose and Throat diseases, A. Pocket
Reference. Edisi ke-2. New York. Thieme Med. 1994. h. 423-32.
8.  Bailey BJ. Early Glottic Carcinoma. Dalam : Bailey BJ. Ed. Head and Neck Surgery
Otolaringology. Vol. 2. ed Philadelphia. JB Lippincot. h. 1313-60.
9.  Lawson W, Biller HFM, Suen JY. Cancer of the Larynx. Dalam Myers EN, Suem JY.
Ed. Cancer of the Head and Neck. Churchill Livingstone.           h. 533-60.
10. Hanna  E, Suen JY. Larynx. Dalam : Closel G, Larson DL, Shah JP,  Essential of
Head and Neck Oncology. New York Thieme, 1998. h. 223-39.
11. Robin PE, Oloffosn J. Tumors of the Laring. Dalam : Hibbert J. Ed. Scott-Browns.
Otolaryngology. Laryngology and Head and Neck Surgery. Vol. 3. Edisi ke-6.
Great Brittain : Butterworth-Heinemann, 1997. h. 5/11/1-43.
12. Shumrick K. Malignant Lesions of  the Larynx. Dalam : Lee KJ, Ed. Text Book of
Otolaryngology and Head and Neck Surgery Elsevier. 1989. h. 647-57.
13. Montgomery WW. Surgery of Upper Respiratory System. Edisi ke-2. Philadelphia.
Lea and Febiger, 1989. h. 533-604.
14. Hanafee WN, Ward PH. The Laring, Radiology, Surgery, Pathology. Vol. I. New
York. Thieme Med, 1990. h. 46-7.
15. Lore JM. An Atlas of Head and Neck Surgery. Edisi ke-3 Philadelphia.  WB
Saunders. 1998. h. 886-937.
16. Wright D. Total Laryngectomy. Dalam : Rob  and Smith. Ballantine  JC, Harrison
DFN Ed. Operative Surgery Nose and Throat. Edisi ke-4. London: Butterworths,
1986. h. 317-46. 
©2004 Digitized by USU digital library  8