KANKER LARING

DEFINISI

  • Kanker Laring merupakan keganasan pada pita suara, kotak suara (laring) atau daerah lainnya di tenggorokan. Kanker laring atau karsinoma laring adalah sel-sel sekitar pita suara yang tumbuh menjadi sel ganas yang menyebabkan kanker. Tumbuh tidak terkoordinasi dengan jaringan lain, akibatnya merugikan tubuh dimana ia tumbuh. Kanker laring lebih banyak ditemukan pada pria dan berhubungan dengan rokok serta pemakaian alkohol.
  • Kanker dapat mengembangkan dalam setiap bagian dari laring, namun angka kesembuhan dipengaruhi oleh lokasi tumor. Untuk keperluan staging tumor, laring dibagi menjadi tiga daerah anatomi: dengan glotis (pita suara benar, commissures anterior dan posterior); yang supraglottis (epiglotis, arytenoids dan lipatan aryepiglottic, dan kabel palsu), dan subglottis tersebut.Kebanyakan kanker laring berasal glottis. Kanker Supraglottic kurang umum, dan tumor subglottic paling tidak sering.
  • Kanker laring dapat menyebar dengan ekstensi langsung ke struktur yang berdekatan, dengan metastasis ke kelenjar getah bening daerah leher rahim, atau lebih jauh, melalui aliran darah. Metastates jauh ke paru-paru yang paling umum.

ETIOLOGI

  • Penyebab pasti sampai saat ini belum diketahui karena penyebab kanker dapat merupakan gabungan dari sekumpulan faktor, genetik dan lingkungan, namun didapatkan beberapa hal yang berhubungan erat dengan terjadinya keganasan laring atau faktor resikonya yaitu : rokok, alkohol, sinar radio aktif, polusi udara, radiasi leher dan asbestosis. Ada peningkatan resiko terjadinya tumor ganas laring pada pekerja-pekerja yang terpapar dengan debu kayu dll.
  • Beberapa hal yang dapat menjadi faktor resiko terjadinya kanker laring adalah
    • Merokok: pembakaran tembakau dapat menghasilkan zat karsinogenik, Dan gerakan silia asap tembakau dapat membuat untuk menghentikan atau memperlambat, kemacetan dan edema mukosa, hiperplasia epitel, penebalan dan metaplasia skuamosa, secara karsinogenik 
    • Alkohol yang berlebihan: alcohol dalam jangka panjang dapat merangsang selaput lendir untuk degenerasi dan menyebabkan kanker.   
    • Kronis inflamasi seperti: radang tenggorokan kronis, atau radang pernafasan   
    • Polusi udara : Gas berbahaya dalam jangka panjang menghirup sulfur dioksida dan produksi debu industri cenderung menyebabkan kanker tenggorokan.   
    • Infeksi virus: Virus memungkinkan sel untuk mengubah sifat dari divisi yang abnormal, virus ini juga dilampirkan ke gen meng-upload ke generasi berikutnya sel kanker. HPV-16,18jenis infeksi dan virus berhubungan denga kanker tenggorokan.   
    • Perubahan prakanker: Tenggorokan keratosis dan tenggorokan jinak, seperti kanker tenggorokan yang berulang.   
    • Radiasi: Karsinogenik ketika terapi radiasi dan tumor leher. Radiasi ionisasi (yang merupakan karsinogenik) digunakan dalam sinar rontgen dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga nuklir dan ledakan bom atom yang bisa menjangkau jarak yang sangat jauh   
    • Hormon seksual : Penelitian menunjukkan bahwa pasien kanker tenggorokan dengan sel reseptor estrogen positif secara signifikan lebih tinggi.
    • Faktor keturunan. Jika terdapat riwayat kelurga gejala kanker laring ini, rasio menurunnya lebih tinggi dibandingkan keluarga yang tidak pernah ada riwayat kanker ini. Seperti jenis kanker yang mungkin dapat diturunkan yaitu gejala kanker payudara, kanker indung telur, gejala kanker kulit maupun gejala kanker usus besar.

PENYEBARAN

  • Kebanyakan kanker laring adalah karsinoma sel skuamosa, yang mencerminkan asal-usul mereka dari sel skuamosa yang membentuk mayoritas epitel laring. Kejadian kanker tenggorokan sekitar 1 sampai 5% dari tumor sistemik di bidang THT, kedua setelah rongga nasofaring dan hidung, kanker sinus menempati urutan ketiga. Baik usia untuk 50 sampai 70 tahun pada pria lebih umum daripada perempuan.
  • Kanker laring lima kali lebih umum pada pria dibandingkan pada wanita. Kebanyakan kasus kaker ini, berkembang pada orang dewasa yang berusia 40 tahun. Tiga perempat kasus mempengaruhi orang-orang yang berusia 60 tahun atau lebih. Merokok adalah satu-satunya faktor risiko terbesar untuk kanker laring. Minum alkohol saat merokok meningkatkan risiko lebih lanjut. Jika pendiagnosisan pada tahap awal penyakit ini, ada kesempatan yang bagus bahwa orang dengan gejala kanker laring akan mencapai kesembuhan. Namun apabila penyakit kanker baru ditemukan telah dalam tingkatan lanjut, mengurangi peluang untuk mencapai penyembuhan menyeluruh.

HISTOPATOLOGI

  • Karsinoma sel skuamosa meliputi 95 – 98% dari semua tumor ganas laring, dengan derajat difrensiasi yang berbeda-beda. Jenis lain yang jarang kita jumpai adalah karsinoma anaplastik, pseudosarkoma, adenokarsinoma dan sarkoma
  • Karsinoma Verukosa. Adalah satu tumor yang secara histologis kelihatannya jinak, akan tetapi klinis ganas. Insidennya 1 – 2% dari seluruh tumor ganas laring, lebih banyak mengenai pria dari wanita dengan perbandingan 3 : 1. Tumor tumbuh lambat tetapi dapat membesar sehingga dapat menimbulkan kerusakan lokal yang luas. Tidak terjadi metastase regional atau jauh. Pengobatannya dengan operasi, radioterapi tidak efektif dan merupakan kontraindikasi. Prognosanya sangat baik.
  • Adenokarsinoma. Angka insidennya 1% dari seluruh tumor ganas laring sering dari kelenjar mukus supraglotis dan subglotis dan tidak pernah dari glottis. Sering bermetastase ke paru-paru dan hepar. two years survival rate-nya sangat rendah. Terapi yang dianjurkan adalah reseksi radikal dengan diseksi kelenjar limfe regional dan radiasi pasca operasi.
  • Kondrosarkoma. Adalah tumor ganas yang berasal dari tulang rawan krikoid 70%, tiroid 20% dan aritenoid 10%. Sering pada laki-laki 40 – 60 tahun. Terapi yang dianjurkan adalah laringektomi total

KLASIFIKASI

  • Berdasarkan Union International Centre le Cancer (UICC) 1982, klasifikasi dan stadium tumor ganas laring terbagi atas :
    • Supraglotis. Yang termasuk supraglotis adalah : permukaan posterior epiglotis yang terletak disekitar os hioid, lipatan ariepiglotik, aritenoid, epiglotis yang terletak di bawah os hioid, pita suara palsu, ventrikel.
    • Glotis. Yang termasuk glottis adalah : pita suara asli, komisura anterior dan komisura posterior.
    • Subglotis. Yang termasuk subglotis adalah : dinding subglotis.

GEJALA

  • Kanker laring biasanya berasal dari pita suara, menyebabkan suara serak. Seseorang yang mengalami serak selama lebih dari 2 minggu sebaiknya segera memeriksakan diri.
  • Kanker bagian laring lainnya menyebabkan nyeri dan kesulitan menelan.
  • Kadang sebuah benjolan di leher yang merupakan penyebaran kanker ke kelenjar getah bening, muncul terlebih dulu sebelum gejala lainnya timbul.

Gejala lainnya yang mungkin terjadi adalah:

  • Nyeri tenggorokan
  • Nyeri leher
  • Penurunan berat badan
  • Batuk
  • Batuk darah
  • Bunyi pernafasan yang abnormal (strdor/ ngorok timbul saat tidur)..
  • Bau mulut
  • Telinga sakit

DIAGNOSA

  • Untuk menegakkan diagnosa tumor ganas laring masih belum memuaskan, hal ini disebabkan antara lain karena letaknya dan sulit untuk dicapai sehingga dijumpai bukan pada stadium awal lagi. Biasanya pasien datang dalam keadaan yang sudah berat sehingga hasil pengobatan yang diberikan kurang memuaskan. Yang terpenting pada penanggulangan tumor ganas laring ialah diagnosa dini 
  • Untuk menegakkan diagnosis dilakukan selain melalui anamnesia dan pemeriksaan fisik juga dengan pemeriksan laringoskop dan biopsi. CT scan dan MRI kepala atau leher juga bisa menunjukkan adanya kanker laring.

DIAGNOSA BANDING
Tumor ganas laring dapat dibanding dengan :
1. TBC laring
2. Sifilis laring
3. Tumor jinak laring.
4. Penyakit kronis laring
PENGOBATAN

  • Pengobatan tergantung kepada lokasi kanker di dalam laring. Kanker stadium awal diatasi dengan pembedahan atau terapi penyinaran. Jika menyerang pita suara, lebih sering dilakukan terapi penyinaran karena bisa mempertahankan suara yang normal. Kanker stadium lanjut biasanya diatasi dengan pembedahan, yang bisa meliputi pengangkatan seluruh bagian laring (laringektomi total atau parsial), diikuti dengan terapi penyinaran. Pengangkatan seluruh pita suara menyebabkan penderita tidak memiliki suara.

Suara yang baru dibuat dengan salah satu dari cara berikut:
1. Esophageal speech, penderita diajari untuk membawa udara ke dalam kerongkongan ketika bernafas dan secara perlahan menghembuskannya untuk menghasilkan suara.
2. Fistula trakeoesofageal, merupakan katup satu arah yang dimasukkan diantara trakea dan kerongkongan.
Katup ini mendorong udara ke dalam kerongkongan ketika penderita bernafas, sehingga menghasilkan suara.
3. Jika katup mengalami kelainan fungsi, cairan dan makanan bisa secara tidak sengaja masuk ke dalam trakea.
4. Elektrolaring adalah suatu alat yang bertindak sebagai sumber suara dan dipasang di leher.
Suara yang dihasilkan oleh ketiga cara tersebut dirubah menjadi percakapan dengan menggunakan mulut, hidung, gigi, lidah dan bibir. Suara yang dihasilkan lebih lemah dibandingkan suara normal.
 PENCEGAHAN
Kurangi atau hindari rokok dan alkohol

Papiloma laring: Gejala klinik dan pengobatan kutil pada laring

Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai pada saluran napas yang jarang terjadi dan berkembang dengan cepat, walaupun tidak ganas. Tumor ini dapat menyebar ke rongga mulut, hidung, trakea dan paru, tetapi lokasi tersering adalah laring.

Apa itu papiloma laring?

  • Papiloma laring merupakan tumor jinak proliferatif yang sering dijumpai pada saluran napas yang jarang terjadi dan berkembang dengan cepat, walaupun tidak ganas. Tumor ini dapat menyebar ke rongga mulut, hidung, trakea dan paru, tetapi lokasi tersering adalah laring.   
  • Papiloma laring pertama kali dikenal sebagai kutil di tenggorok (warts in the throat) oleh Donalus pada abad ke-17. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) pada saluran napas merupakan penyebab potensial papiloma laring. Mc Kenzie membedakan penyakit ini dari tumor lain secara klinis dan menggunakan istilah “papiloma”.
  • Papiloma merupakan neoplasma laring jinak pada anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa, pada anak dapat menjadi masalah jika menyumbat jalan napas yang dapat mengakibatkan kematian. . .  
  • Penyakit ini cenderung kambuh sehingga disebut juga recurrent respiratory papillomatosis, dapat tumbuh pada kedua pita suara asli dan pita suara palsu. Papilloma ini dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas atau perubahan suara. 
  • Terdapat dua jenis papiloma laring; salah satu adalah papiloma laring juvenilis yang biasanya multipel dan cenderung agresif dan biasanya di jumpai pada anak- anak. Yang lain adalah papiloma laring senilis yang soliter dan kurang agresif tetapi dapat berkembang menjadi ganas yang dapat di jumpai pada orang dewasa yaitu sekitar usia 20-40 tahun..


Apa penyebab papiloma laring??

  • Penyebab papiloma laring belum diketahui dengan pasti. Diduga Human Papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring. Diduga ada hubungan antara infeksi HPV genital ( kondiloma genital ) pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak.  Hal ini terbukti dengan adanya HPV tipe 6 dan 11 pada kondiloma genital. Walaupun penemuan di atas menunjukkan peran infeksi virus pada papiloma laring, tetapi ada faktor lain yang berperan, mengingat papiloma laring dapat menghilang spontan saat pubertas.
  • Tipe HPV lainnya yang berhubungan dengan papilomatosis laring meliputi tipe 16, 18, 31 dan 33. Namun, HPV juga ditemukan pada mukosa laring normal. Prevalensi HPV yang dideteksi pada mukosa laring normal adalah sebesar 25%. 
  • Teori yang melibatkan faktor hormonal sebagai salah satu penyebab pertama kali dikemukakan oleh Holinger.
  • Terdapat beberapa faktor predisposisi papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan higiene yang buruk, infeksi saluran napas kronik, dan kelainan imunologis.

Bagaimana penyebaran penyakit papiloma laring?

 

  • Papilomatosis laring merupakan tumor jinak laring yang jarang terjadi, lebih sering dijumpai pada anak dimana 80% pada kelompok usia di bawah 7 tahun, selain pada anak-anak papiloma laring juga ditemukan pada orang dewasa.
  • Pada anak, kejadian papilomatosis laring hampir sama di antara laki-laki dan perempuan. Papilomatosis laring pada dewasa lebih sering terjadi pada usia 20-40 tahun dan lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan dengan rasio 2:1 hingga 4:1
  • Dibagian THT FK USU/RSUP H.Adam Malik Medan sejak November 2001 sampai dengan November 2002 ditemukan enam kasus papilloma laring, empat orang kasus pada anak dan dua orang kasus pada dewasa.

Apa saja klasifikasi papiloma laring?
Berdasarkan waktu terjadinya, papilomatosis laring terbagi dua

 

  • Papilomatosis laring tipe juvenilis
    • Papilomatosis laring tipe juvenilis biasanya berupa lesi multipel dan mudah kambuh sehingga membutuhkan eksisi yang berulang. Namun, papilomatosis tipe ini dapat regresi secara spontan pada usia pubertas. 
    • Pada anak yang menderita papilomatosis laring di bawah usia 3 tahun, memiliki risiko sebesar 3,6 kali untuk dioperasi lebih dari 4 kali tiap tahun.
  • Papilomatosis laring tipe senilis
    • Papilomatosis laring tipe senilis biasanya berupa lesi tunggal dengan tingkat rekurensi rendah dan kurang bersifat agresif, tetapi memiliki risiko pre kanker yang tinggi.

Bagaimana proses perjalanan penyakit papiloma laring??

 

  • Papilomatosis laring disebabkan oleh infeksi HPV, terutama HPV tipe 6 dan 11. Tipe HPV lainnya yang berhubungan dengan papilomatosis laring meliputi tipe 16, 18, 31 dan 33.
  • Human papilloma virus merupakan virus DNA, tidak berkapsul dengan kapsid ikosehedral dan DNA double-stranded. Di dalam sel yang terinfeksi, DNA HPV mengalami replikasi, transkipsi dan translasi menjadi protein virus. Protein ini akan membentuk virion HPV baru yang dapat menginfeksi sel lainnya. Sel yang terinfeksi HPV akan mengalami proliferasi pada lapisan basal.

Proses infeksi HPV pada laring

  • Respon imun tubuh berperan dalam patogenesis terbentuknya lesi HPV. Pada papilomatosis laring, nuclear factor-kappa beta (NF-кβ) merupakan mediator utama yang terlibat dalam regulasi respon imun selular (Th1) dan humoral (Th2). Respon imun selular merupakan faktor yang paling penting dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi HPV. Malfungsi respon imun selular menyebabkan papilomatosis laring, sebaliknya defek imunitas humoral tidak berhubungan dengan penyakit ini. 
  • Rekurensi tumor dapat terjadi akibat DNA HPV yang menetap pada mukosa normal.

Bagaimana transmisi penyakit papiloma laring?

 

  • Kejadian papilomatosis laring pada anak dapat terjadi akibat transmisi HPV pada saat kelahiran. Risiko transmisi infeksi HPV dari ibu ke anak diperkirakan meningkat pada anak pertama yang lahir per vaginam pada ibu usia muda yang menderita infeksi HPV genital. Status sistem kekebalan tubuh anak, Lamanya waktu jalan lahir, Volume virus di jalan lahir, dan kehadiran lokal trauma dianggap sebagai faktor yang berkontribusi terhadap penyebaran virus HPV pada papiloma laring. Para ahli menemukan satu dari 109 kasus papilomatosis laring pada anak yang lahir dengan operasi Caesar. Pada kasus papilomatosis laring neonatal, perkembangan penyakit mungkin telah terjadi saat di dalam kandungan.
  • Papilomatosis laring pada dewasa dapat terjadi akibat penularan HPV secara seksual dengan banyak pasangan dalam jangka waktu yang lama dan kontak orogenital. Namun, papilomatosis laring pada dewasa mungkin telah terjadi pada usia remaja yang bersifat laten dan teraktivasi bila imunitas tubuh menurun

Apa saja gejala klinik papiloma laring??

 

  • Gejala klinis yang timbul tergantung pada letak dan besarnya tumor. Gejala yang paling sering dijumpai adalah perubahan suara. 
  • Pada awalnya adalah gangguan fonasi berupa suara serak sampai hilang suara (afonia) dan suara tangisan abnormal pada anak.  Suara serak merupakan gejala yang paling sering dikemukakan apabila tumor tersebut terletak di pita suara dan jika tumor tersebut telah menyebar di seluruh pita suara, maka akan meyebabkan hilangnya suara atau afonia.
  • Bila papiloma cukup besar dapat menyebabkan gangguan pernapasan berupa batuk, sesak, dan stridor inspirasi. Timbulnya sesak merupakan suatu tanda bahwa telah terjadi sumbatan jalan nafas bagian atas dan biasanya diperlukan tindakan trakeostomi
  • Sumbatan saluran napas atas dapat dibagi menjadi 4 derajat berdasarkan kriteria Jackson. 
    • Jackson I ditandai dengan sesak, stridor inspirasi ringan, retraksi suprasternal, tanpa sianosis. 
    • Jackson II adalah gejala sesuai Jackson I tetapi lebih berat yaitu disertai retraksi supra dan infraklavikula, sianosis ringan, dan pasien tampak mulai gelisah. 
    • Jackson III adalah Jackson II yang bertambah berat disertai retraksi interkostal, epigastrium, dan sianosis lebih jelas, sedangkan 
    • Jackson IV ditandai dengan gejala Jackson III disertai wajah yang tampak tegang, dan terkadang gagal napas.
  • Kebanyakan pasien terutama pada anak datang dengan obstruksi jalan nafas dan sering salah diagnosis sebagai asma, bronkitis kronis atau laringotrakeobronkitis. Dari penelitian yang dilakukan gambaran klinis yang sering ditemukan pada papilomatosis laring adalah suara serak (95,65%), sensasi mengganjal di tenggorok (78,26%), batuk kronis (65,21%), stridor (56,52%) dan dispnea (47,82%)
  • Penyebaran ke trakea dan bronkus jarang ditemukan, tetapi dapat terjadi pada pasien dengan riwayat ekstirpasi papiloma atau riwayat trakeostomi sebelumnya, yang menimbulkan sumbatan saluran napas atau penyakit parenkim paru.
  • Penyebaran papilomatosis laring ke ekstralaring diidentifikasi pada 13-30% anak dan 16% dewasa. Lokasi ekstra laring yang paling sering adalah kavitas oris, trakea dan bronkus. Kejadian papilomatosis paru adalah jarang, tetapi jika terjadi dapat menimbulkan komplikasi yang berat seperti perdarahan dan pembentukan abses. 
  • Papilomatosis laring pada dewasa biasanya tidak bersifat agresif dibandingkan pada anak. Angka remisi pada papilomatosis laring tipe dewasa sulit diperkirakan. Papilomatosis tipe ini dapat tumbuh cepat dan berbahaya terhadap jalan nafas jika terjadi perubahan hormon, seperti pada kehamilan.

Gambaran makroskopis

  • Papiloma laring terlihat sebagai massa multinodular yang tumbuh eksofitik , seperti kembang kol, berwarna abu-abu atau kemerahan dan mudah berdarah. Tipe lesi ini bersifat agresif dan mudah kambuh, tetapi dapat hilang sama sekali secara spontan.
  • Dari penelitian yang dilakukan lokasi utama papilomatosis laring tipe senilis adalah pada glotis (75,6%), dan supraglotis (23,6%) sebagai lokasi kedua tersering. 
  • Papilomatosis laring tipe juvenilis terbanyak ditemukan pada komisura anterior dan plika vokalis (78,26%), diikuti pada komisura anterior dan posterior, plika vokalis, plika ventrikularis dan permukaan epiglotis (13,04%) serta regio subglotik (8,69%).

Gambaran mikroskopik

  • Gambaran mikroskopik menunjukkan kelompok stroma jaringan ikat dan pembuluh darah seperti jari-jari yang dilapisi lapisan sel epitel skuamosa hiperplastik dengan permukaan keratotik atau parakeratotik. Kadang-kadang muncul gambaran sel yang bermitosis.

Gambaran mikroskopis papiloma laring


Bagaimana cara diagnosisnya?

 

  • Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang teliti, pemeriksaan fisis, dengan laringoskopi langsung atau tak langsung serta dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologis.
  • Pada anamnesis jika terdapat suara serak dan suara tangisan yang abnormal pada anak dengan atau tanpa riwayat infeksi yang telah diobati tetapi tidak ada perubahan, maka perlu dicurigai suatu papiloma laring. Biasanya terdapat stridor inspirasi 
  • Pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak gambaran tumor yang menyerupai kembang kol, kemerahan, rapuh, dan mudah berdarah, serta pertumbuhannya eksofilik.
  •  
  • Pemeriksaan penunjang lain berupa Identifikasi HPV dapat dilakukan dengan pemeriksaan imunohistokimia, isolasi DNA virus, teknik hibridisasi in situ dan polymerase chain reaction (PCR).
  • Penyebaran ke trakea dan paru dapat diidentifikasi melalui foto toraks dan CT Scan. Pada foto toraks dapat terlihat gambaran kavitas.

Gambaran laring normal

Gambaran laring normal

Tampak papiloma laring dengan nodul soliter

Papiloma laring dengan nodul multisoliter

Diagnosis banding

  • Diagnosis sulit terutama pada fase awal. Sering disalah diagnosis dengan laringo-trakeo-bronkitis, asma bronkial, laringomalasea, paralisis pita suara, nodul pita suara atau kista laring kongenital, laringitis tuberkulosis dan karsinoma laring stadium awal 
  • Diagnosis harus dikonfirmasi dengan laringoskopi langsung dan biopsi.

Bagaimana pengobatan papiloma laring??

 

  • Tujuan terapi pada papilomatosis laring adalah untuk mempertahankan jalan nafas dan kualitas suara. Namun, tidak ada terapi yang memuaskan dalam pengobatan papilomatosis laring
  • Ada beberapa perangkat dalam tatalaksana papiloma laring, semuanya mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat papiloma dan menghindari rekurensi.

Umumnya terapi dapat dikategorikan sebagai berikut :

  • Bedah
    • Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan jaringan normal untuk mencegah penyulit seperti stenosis laring. Prosedur bedah ditujukan untuk menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan napas. 
    • Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi, laringofissure, mikrolaringoskopi langsung, mikrolaringoskopi dan ekstirpasi dengan forseps, mikrokauter, mikrolaringoskopi dengan diatermi, mikrolaringoskopi dengan ultrasonografi, kriosurgeri, carbondioxide laser surgery. 
    • Pada kasus papi-loma laring yang berulang, terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan laser CO2.
  • Medikamentosa
    • Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik digunakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah. Obat yang digunakan antara lain antivirus, hormon (dietilstilbestrol), steroid, dan podofilin topikal. 
    • Terapi medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat.
  • Imunologis
    • Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya suportif menggunakan interferon.
  • Terapi fotodinamik
    • Terapi ini merupakan tatalaksana papilomatosis laring rekuren menggunakan dihematoporphyrin ether (DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker. Jika diaktivasi dengan cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm), DHE menghasilkan agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel yang mengandung substansi tersebut. 
    • Basheda dkk. melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif menghilangkan lesi endobronkial, tetapi tidak untuk lesi parenkim

Bagaimana pencegahan papiloma laring??

 

  • Pencegahan infeksi HPV pada laring sulit dilakukan karena transmisi virus yang belum diketahui secara pasti. 
  • Papiloma laring pada dewasa tidak dianggap menular dengan berciuman orang yang terinfeksi. Peran kontak oral-genital pada orang yang terinfeksi belum sepenuhnya dijelaskan.
  • Vaksin dapat diberikan untuk mencegah angka kekambuhan pada papilomatosis laring. Para ahli mengembangkan suatu vaksin baru terhadap HPV-11 E6 pada fase preklinik.

Apa saja komplikasi yang timbul pada papiloma laring??

 

  • Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh spontan ketika pubertas; tetapi dapat meluas ke trakea, bronkus, dan paru, diduga akibat tindakan trakeostomi, ekstirpasi yang tidak sempurna. Meskipun jarang, radiasi diduga menjadi faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas.

Apa prognosis papiloma laring??

 

  • Prognosis papiloma laring umumnya baik. Angka re-kurensi (berulang) dapat mencapai 40%. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang mempengaruhi re-kurensi pada papiloma.  Regresi total kadang-kadang terjadi pada saat pubertas, tetapi hal ini tidak selalu terjadi
  • Diagnosis dini dan penanganan yang tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap rekurensi. Penyebab kematian biasanya karena penyebaran ke paru.

SUARA SERAK

PENDAHULUAN

Hoarseness atau suara serak menggambarkan kelainan memproduksi suara ketika mencoba berbicara, atau ada perubahan nada atau kualitas suara.Suaranya terdengar lemah, terengah- engah, kasar dan serak.

Hoarseness biasanya disebabkan oleh adanya masalah pada bagian pita suara.

Produksi suara sendiri merupakan suatu hasil dari koordinasi diantara sistem pernapasan, fonasi (suara) dan artikulasi, dimana masing-masing dipengaruhi oleh teknik bersuara dan status emosianal setiap individu.

Dalam dunia medis, dikenal istilah Disfonia yaitu merupakan istilah umum untuk setiap gangguan suara untuk yang disebabkan kelainan pada organ-organ fonasi, terutama laring, baik yang bersifat organik maupun fungsional. Disfonia bukan penyakit melainkan merupakan gejala penyakit atau kelainan pada laring.

Gangguan suara atau disfonia ini dapat berupa suara parau atau serak yaitu suara terdengar kasar (roughness) dengan nada lebih rendah dari biasanya, suara lemah (hipofonia), hilang suara (afonia), suara tegang dan susah keluar (spastik), suara terdiri dari beberapa nada (diplofonia), nyeri saat bersuara (odinofonia) atau ketidakmampuan mencapai nada atau intensitas tertentu.

Setiap keadaan yang menimbulkan gangguan dalam getaran, gangguan dalam ketegangan serta gangguan dalam pendekatan (aduksi) kedua pita suara kiri dan kanan akan menimbulkan disfonia.


DEFENISI SUARA SERAK

  • Suatu keadaan dimana terdapat kesulitan dalam memproduksi suara ketika mencoba berbicara, atau perubahan suara pada nada dan kualitasnya. Suara tersebut mungkin terdengar lemah, berat, kasar atau parau. atau terjadi perubahan volume atau pitch (tinggi rendah suara)
  • Suara serak bukan merupakan suatu penyakit, tetapi merupakan gejala dari suatu penyakit
  • Istilah hoarseness atau suara serak sendiri dapat merefleksikan kelainan (abnormalitas) yang letaknya bisa di berbagai tempat di sepanjang saluran vokalis, mulai dari rongga mulut hingga paru. Meski idealnya istilah hoarseness lebih baik ditujukan untuk disfungsi laring akibat vibrasi pita suara yang abnormal

FAKTOR RESIKO

  • Bernafas pada lingkungan yang tidak bersih
  • Pubertas berkaitan dengan pelebaran laring
  • Merokok, ( juga merupakan faktor resiko utama terjadinya karsinomaLaring ).
  • Menghisap ganja
  • Penyalahgunaan obat-obatan
  • Refluks gastroesofagus
  • Pekerjaan yang menggunakan suara sebagai modal utama misal : guru,aktor, penyanyi
  • Penggunaan steroid dalam jangka waktu lama
  • Minum alkohol, kopi berlebihan
  • Berteriak pada acara olahraga atau tempat ramai seperti bandara dan bar
  • Berbicara saat makan
  • Kebiasaan sering batuk untuk membersihkan tenggorokan
  • Kebiasaan berbisik
  • Stres, gelisah, depresi dapat menyebabkan tremor pita suara

ETIOPATOGENESIS SUARA SERAK

  • Perubahan dari suara biasanya berkaitan dengan gangguan pada pita suara yang merupakan bagian pembentuk suara yang terdapat di larynx. Setiap keadaan yang menimbulkan gangguan getaran, ketegangan dan pendekatan kedua pita suara kiri dan kanan akan menimbulkan suara parau.
  • Walaupun hanya merupakan gejala, tetapi prosesnya berlangsung lama (kronik) dan dapat merupakan tanda awal penyakit serius di daerah tenggorok, khususnya laring. 
  • Penyebabnya dapat berupa radang, tumor (neoplasma), paralisis otot-otot laring, kelainan laring seperti sikatriks akibat operasi, fiksasi pada sendi kriko aritenoid, dll. 
  • Ada satu keadaan disebut disfonia ventrikular, yaitu keadaan plika ventrikular yang mengambil alih fungsi fonasi dari pita suara, misalnya sebagai akibat pemakaian suara yang terus menerus pada pasien dengan laringitis akut. Inilah pentingnya istirahat berbicara (vokal rest) pada pasien, laringitis akut, disamping pemberian obat-obatan.
  • Berikut ini beberapa penyebab suara serak :
    • Peradangan laring (laringitis) baik akut maupun kronis.
      • Pada Laringitis akut  
        • Radang akut laring pada umumnya merupakan kelajutan dari infeksi saluran nafas seperti influenza atau common cold. Penyebab radang ini ialah bakteri, yang menyebabkan radang lokal atau virus yang menyebabkan peradangan sistemik.
        • Pada larinigtis akut terdapat gejala radang umum, seperti demam,dedar (malaise), serta gejala lokal, seperti suara parau sampai tidak bersuara sama sekali (afoni), nyeri ketika menalan atau berbicara serta gejala sumbatan laring. Selain itu terdapat batuk kering dan lama kelamaan disertai dengan dahak kental.
        • Ketidaksempurnaan produksi suara pada pasien dengan laringitis akut dapat diakibatkan oleh penggunaan kekuatan aduksi yang besar atau tekanan untuk mengimbangi penutupan yang tidak sempurna dari glottis selama episode laringitis akut. Tekanan ini selanjutnya menegangkan lipatan-lipatan (plika) vocal dan mengurangi produsi suara. Pada akhirnya menunda kembalinya fonasi normal.
      • Pada laringitis kronis
        • Beberapa hal bisa mendasari kondisi ini yang biasanya akibat paparan dari iritan (zat yang bisa mengiritasi) seperti tekanan yang terus menerus pada pita suara, sinusitis kronis, infeksi ragi (akibat sistem kekebalan tubuh yang lemah) serta terpapar asap atau gas yang mengandung zat kimia.
        • Dalam keadaan laryngitis, pita suara mengalami peradangan sehingga tekanan yang diperlukan untuk memproduksi suara meningkat. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam memproduksi tekanan yang adekuat. Udara yang melewati pita suara yang mengalami peradangan ini justru menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi parau. Bahkan pada beberapa kasus suara dapat menjadi lemah atau bahkan tak terdengar.
        • Semakin tebal dan semakin kecil ukuran pita suara, getaran yang dihasilkan semakin cepat. Semakin cepat getaran suara yang dihasilkan semakin tinggi. Pembengkakan pada pita suara dapat mengakibatkan tidak menyatunya kedua pita suara sehingga dapat terjadi perubahan pada suara.
    • Nodul pita suara dan polip pita suara
      • Kelainan ini biasanya disebabkan oleh penyalahgunaan suara dalam waktu yang lama, seperti pada seorang guru, penyanyi dan sebagainya. Gejalanya terdapat suara parau yang kadang-kadang disertai batuk.
      • Pada mereka yang memang menggunakan suara secara berlebihan, seperti, penyanyi profesional, guru, dosen, atau mereka yang sering berbicara dan menggunakan suara berlebihan dapat terjadi pembengkakan pita suara yang disebut sebagai nodul pita suara atau polip pita suara.
    • Kista pita Suara
      • Kista pita suara umumnya terrmasuk kista resistensi kelenjar liur minor laring, terbentuk akibat tersumbatnya kelenjar tersebut, faktor iritasi kronik, refluks gastroesofageal dan infeksi diduga berperan sebagai faktor predisposisi. 
      • Kista terletak di dalam lamina propria superfisialis, menempel pada membran basal epitel atau ligamentum vokalis. Ukurannya biasanya tidak besar sehingga jarang menyebabkan sumbatan jalan nafas atas. Gejala utamanya adalah parau.
    • Merokok dan mengkonsumsi alkohol
      • Merokok dan mengkonsumsi alkohol dapat mengiritasi laring, dapat menyebabkan peradangan dan penebalan pita suara
    • Gastroesophageal reflux disease (GERD)
      • GERD adalah suatu kelainan dimana asamlambung naik kembali melalui esophagus dan tenggorokan, sehingga dapat menyebabkan iritasi pada laring. 
      • Biasanya, suara mulai memburuk di pagi hari dan meningkat sepanjang hari. Penderita juga mengalami gejala lain seperti tenggorokan terasa nyeri dan kering, rasa panas di pipi, sensasi yang menyumbat, dan batuk kronis.
    • Menggunakan suara secara berlebihan
      • Kondisi ini paling sering terjadi pada orang yang pekerjaannya selalu berbicara dan penyanyi. Menyalahgunakan suara secara berlebihan bisa menimbulkan gangguan pada pita suara seperti menyebabkan kista atau perdarahan. Biasanya terjadi jika sering berbicara dengan keras, teriak atau terlalu banyak berbicara
    • Kelumpuhan pita suara atau paralisis pita suara 
      • Kelumpuhan pita suara adalah terganggunya pergerakan pita suara karena disfungsi saraf otot-otot laring hal ini merupakan gejala suatu penyakit dan bukan merupakan suatu diagnosis. Paralisis pita suara terjadi ketika salah satu atau kedua pita suara tidak dapat membuka ataupun menutup dengan semestinya 
      • Penyebabnya bisa karena Trauma bedah iatrogenik pada vagus atau n. laringeus rekuren, Invasi malignan pada vagus atau n.laringeus rekuren dapat terjadi akibat tumor, Kerusakan pada saraf yang mempersarafi daerah laring, idiopatik dan karena kondisi neurologik tertentu seperti stroke, tumor otak, maupun multiple sclerosis
      • Gejala kelumpuhan pita suara yang didapat adalah suara parau, stridor atau bahkan kesulitan menelan tergantung pada penyebabnya.
      • Proses terjadinya yaitu Pada daerah laring, secara anatomis terdapat nervus vagus dan cabangnya yaitu nervus laringeus rekurens yang mempersarafi pita suara. Jika terjadi penekanan maupun kerusakan terhadap nervus ini maka akan terjadi paralisis pita suara, di mana pita suara tidak dapat beradduksi. Secara normal, ketika berfonasi, kedua pita suara beradduksi, tetapi karena terjadi paralisis salah satu atau kedua pita suara, maka vibrasi yang dihasilkan oleh pita suara tidak maksimal.
    • Alergi
      • Secara klinis,  meskipun tidak ada perubahan yang jelas dalam laring karena alergi, ada beberapa perubahan di tenggorokan dan hidung, yang mempengaruhi suara. 
      • Alergi menyebabkan pembengkakan jaringan hidung, yang dapat mengubah suara. Selain itu, alergi dapat meningkatkan drainase hidung dan menyebabkan kliring tenggorokan sering, yang dapat mengiritasi pita suara. Oleh karena itu penting untuk memasukkan alergi sebagai pertimbangan dalam mengevaluasi pasien dengan suara serak.
    • Kelainan Kongenital
      • Laringomalasia
        • Merupakan penyebab tersering suara parau saat bernafas pada bayi baru lahir.
      • Laringeal webs
        • Merupakan suatu selaput jaringan pada laring yang sebagian menutup jalanudara. 75 % selaput ini terletak diantara pita suara, tetapi selaput ini jugadapat terletak diatas atau dibawah pita suara.
      • Cri du chat syndrome dan Down sindrome
        • Merupakan suatu kelainan genetik pada bayi saat lahir yang bermanifestasi klinis berupa suara parau atau stridor saat bernafas
    • Papilloma laring
      • Gejala awal penyakit ini adalah suara serak dan karena sering terjadi pada anak, biasanya disertai dengan tangis yang lemah. Papiloma dapat membesar kadang-kadang dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang memngakibatkan sesak dan stridor sehingga memerlukan trakeostomi
      • Untuk papiloma laring dapat di baca disini
    • Trauma
      • Endotracheal intubasi pada pembedahan atau resusitasi bisa menyebabkan suara parau.
      • Fraktur pada laring dimana Trauma langsung pada laring dapat menyebakan fraktur kartilago laringyang menyebabkan lokal hematoma atau mengenai saraf.
      • Benda asing yaitu Benda asing yang termakan oleh anak-anak bisa masuk ke laring dan menyebabkan suara parau dan kesulitan bernafas
    • Hemangioma 
      • merupakan tumor jinak pembuluh darah, mungkin timbul pada daerah jalan nafas dan menyebabkan suara parau atau lebih sering stridor.
    • Limphagioma ( higroma kistik) 
      • merupakan tumor pembuluh limfa. Sering timbul didaerah kepala dan leher dan dapat mengenai pada jalan nafas yang menyebabkan stridor atau suara serak.
    • Keratosis laring 
      • Gejala yang sering ditemukan pada penyakit ini adalah suara serak yang persisten. Sesak nafas dan stridor tidak selalu ditemukan. Selain itu ada rasa yang mengganjal di tenggorokan, tanpa rasa sakit dan disfagia. 
      • Pada keratosis laring, terjadi penebalan epitel, penambahan lapisan sel dengangambaran pertandukan pada mukosa laring. Tempat yang sering mengalami pertandukan adalah pita suara dan fossa interaritenoid.
    • Keganasan atau kanker laring (pita suara)
      • Gejala utama karsinoma laring adalah suara serak yang merupakan gejala paling dini tumor pita suara. Hal ini disebabkan karena ganguan fungsi fonasi laring. Kualitas nada sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya celah glotik, besar pita suara, ketajaman tepi pita suara, kecepatan getaran, dan ketegangan pita suara. 
      • Pada tumor ganas laring, pita suara gagal berfungsi secara baik disebabkan ketidakteraturan pita suara, oklusi atau penyempitan celah glotik, terserangnya otot-otot vokalis, sendi dan ligamen krikoaritenoid, dan kadang-kadang menyerang saraf. Serak menyebabkan kualitas suara menjadi kasar, menganggu, sumbang, dan nadanya lebih rendah dari biasanya. Kadang bisa afoni karena nyeri, sumbatan jalan nafas, atau paralisis komplit. 
      • Hubungan antara suara serak dengan tumor laring tergantung dari letak tumornya. Apabila tumbuh di pita suara asli, maka serak merupakan gejala dini dan menetap. Pada tumor subglotik dan supraglotik, serak dapat merupakan gejala akhir atau tidak muncul sama sekali
    • Beberapa penakit sistemik juga dapat menyebabkan suara serak antara lain Hipotirodisme, Multiple, sklerosis, Rematoid artritis, Penyakit Parkinson, Lupus sistemik, Wagener’s granulomatosis, Miasenia Gravis, Sarkoidosis, Amiloidosis.

GEJALA KLINIK

  • Suara serak biasanya memberikan kualitas suara yang parau dan kasar, meskipun juga dapat menyebabkan perubahan dalam pitch atau volume suara. Para kecepatan onset dan gejala terkait,akan tergantung pada penyebab yang mendasarinya yang menyebabkan suara serak
  • Keluhan yang menyertai suara parau bervariasi pada setiap orang tergantung intensitas dan etiologi yang mendasari suara parau tersebut, dapat dirasakan sementara atau intermiten maupun terus-menerus atau kontinu.
  • Gejala klinis yang umum, antara lain : 
    • Rasa gatal di tenggorokan
    • Perasaan adanya benda asing di tenggorokan
    • Suara tercekat di tenggorokan
    • Ketidakmampuan menghasilkan suara yang jernih
    • Perubahan suara baik disertai nyeri tenggorokan atau tidak 
    • Nyeri dan sulit menelan
    • Batuk
  • Gejala klinis spesifik timbul berkaitan dengan etiologi yang mendasari :
    • Laringitis akut
      • Selain suara serak, penderita juga bisanya di sertai gejala lain seperti demam, dedar (malaise), nyeri menelan atau berbicara, batuk, disamping gangguan suara. Kadang-kadang dapat terjadi sumbatan laring dengan gejala stridor serta cekungan di suprasternal, epigastrium dan sela iga.
    • Laringitis kronis
      • Gejala klinis yang nampak pada laringitis kronis selain Suara parau yang menetap, juga rasa tersangkut di tenggorok sehingga sering mendehem tanpa sekret, kadang juga terdapat sakit tenggorokan.
    • Kanker laring
      • Gejala yang timbul selain suara serak yang biasanya menetap adalah nyeri tenggorokan. nyeri leher, batuk darah. bunyi pernafasan yang abnormal, bengkak/benjolan ditenggorokan, nyeri ketika bicara atau menelan, rasa terbakar di tenggorokan saat menelan cairan panas, dyspnea, lemah,  berat badan menurun, pembesaran kelenjar limfe dan nafas yang bau
    • Nodul pita suara
      • Kelainan ini biasanya disebabkan oleh penyalahgunaan suara dalam waktu yang lama, seperti pada seorang guru, penyanyi dan sebagainya. 
      • Gejalanya terdapat suara parau yang kadang-kadang disertai batuk. 
      • Pada awalnya pasien mengeluhkan suara pecah pada nada tinggi dan gagal dalam mempertahankan nada. Selanjutnya pasien menderita serak yang digambarkan sebagai suara parau, yang timbul pada nada tinggi, terkadang disertai dengan batuk. Nada rendah terkena belakangan karena nodul tidak berada pada posisi yang sesuai ketika nada dihasilkan. Kelelahan suara biasanya cepat terjadi sebelum suara serak menjadi jelas dan menetap. 
      • Jika nodul cukup besar, gangguan bernafas adalah gambaran yang paling umum
    • Polip pita suara
      • Pada polip pita suara biasanya disebabkan oleh penggunaan suara yang terlampau lama, reaksi menahun pada laring, menghirup iritan
      • Gejala klinis yang nampak pada polip pita suara selain suara serak yang menetap, juga mungkin menunjukkan gejala seperti ketidaknyamanan pada saat ucapan dan ketidaknyamanan ditenggorokan.
    • Kista pada laring
      • Kista pita suara umumnya terrmasuk kista resistensi kelenjar liur minor laring, terbentuk akibat tersumbatnya kelenjar tersebut, faktor iritasi kronik, refluks gastroesofageal dan infeksi diduga berperan sebagai faktor predisposisi. Kista terletak di dalam lamina propria superfisialis, menempel pada membran basal epitel atau ligamentum vokalis. Ukurannya biasanya tidak besar sehingga jarang menyebabkan sumbatan jalan nafas atas. 
      • Gejala utamanya adalah parau, kadang kala disertai rasa sakit di leher akibat penekanan pada tenggorokan dan Kesulitan menelan.
    • Papiloma laring
      • Gejala klinis yang timbul tergantung pada letak dan besarnya tumor. Gejala yang paling sering dijumpai adalah perubahan suara.
      • Suara serak merupakan gejala dini dan keluhan yang paling sering dikemukakan apabila tumor tersebut terletak di pita suara. Papilloma laring dapat membesar, Kadang-kadang dapat mengakibatkan sumbatan jalan nafas yang mengakibatkan stridor dan sesak. Timbulnya sesak merupakan suatu tanda bahwa telah terjadi sumbatan jalan nafas bagian atas
    • Paralisis pita suara
      • Paralisis otot laring dapat disebabkan gangguan persarafan, baik sentral maupun perifer, dan biasanya paralisis motorik bersama dengan paralisis sensorik. Kejadiannya dapat unilateral maupun bilateral.
      • Selain suara parau, dapat juga di jumpai gejala klinis yang lainnya, seperti gangguan respirasi dan stridor, anestesi yang menyebabkan inhalasi makanan dan sekresi faring yang merangsang batuk dan tersedak, suara menjadi lemah.
      • Kelumpuhan pita suara bisa mempengaruhi proses berbicara, bernafas dan menelan. Kelumpuhan menyebabkan makanan dan cairan terhidup ke dalam trakea dan paru-paru. 
      • Jika hanya 1 pita suara yang lumpuh (kelumpuhan 1 sisi), maka suara menjadi serak. Biasanya saluran udara tidak tersumbat karena pita suara yang normal bisa membuka sebagaimana mestinya. Jika kedua pita suara mengalami kelumpuhan (kelumpuhan 2 sisi), maka kekuatan suara akan berkurang. Penderita juga mengalami gangguan pernafasan karena terjadi penyumbatan saluran udara ke trakea.
    • Laringomalasia
      • Keadaan ini merupakan akibat dari flaksiditas dan inkoordinasi kartilago supraglotik dan mukosa aritenoid, plika ariepiglotik dan epiglotis. Biasanya, pasien dengan keadaan ini menunjukkan gejala pada saat baru dilahirkan, dan setelah beberapa minggu pertama kehidupan secara bertahap berkembang stridor inspiratoar dengan nada tinggi dan kadang kesulitan dalam pemberian makanan.
      • Ini merupakan kelainan kongenital ang di dapat sejak lahir. Gejala klinis yang di jumpai selain suara serak juga terdapat bising inspirasi (stridor inspiratoir) dimana stridor saat inspirasi ini terdengar seperti suara hidung tersumbat, tidak dijumpai sekret hidung, Stridor cukup kuat sehingga jika meletakkan tangan di dada penderita maka dapat merasakan getaran dan stridor berkurang saat penderita tidur telungkup (prone)
    • Cri du chatting sindrom
      • Cri du chatting sindrom adalah sekelompok gejala yang disebabkan kehilangan sepotong kromosom nomor 5. Nama sindrom ini didasarkan pada tangisan bayi, yang bernada tinggi dan suara seperti kucing.
      • Ini merupakan kelainan pada kromosom yang di dapat sejak lahir. Selain ganguan suara seperti suara kucing dan serak, juga di jumpai keluhan lain seperti berat lahir rendah dan pertumbuhan yang lambat, selama masa pertumbuhan pun, tubuh penderita kecil dengan tinggi badan di bawah rata-rata, penderita memiliki otak yang kecil (mikrochepal) sehingga bentuk kepala juga kecil saat lahir, keterbelakangan mental (cacat intelektual), masalah perilaku seperti hiperaktif, agresi, amukan, dan gerakan berulang-ulang, pertumbuhan badan dan kepala lambat. 
      • Ciri fisik lain meliputi bentuk wajah bulat dengan pipi besar, jari-jari yang pendek, dan bentuk kuping yang rendah letaknya

PENATALAKSANAAN

  • Pengobatan suara serak sesuai dengan kelainan atau penyakit yang menjadi etiologinya.
  • Karena akibat yang timbul akibat kelelahan bersuara, maka perlu beberapa langkah pencegahan maupun terapi. Bila belum timbul keluhan, pencegahan merupakan hal yang terpenting. Beberapa peneliti menyarankan untuk minum air setiap beberapa saat setelah berbicara. Laki-laki yang minum air akan dapat membaca dengan kualitas suara yang baik dalam waktu yang lebih lama dibandingkan dengan yang tidak diberi minum air. Hal yang sama didapatkan pada penyanyi karaoke amatir. Istirahat bersuara merupakan salah satu tehnik untuk mengistirahatkan organ-organ pembentuk suara.
  • Faktor-faktor lain yang menjadi faktor risiko terjadinya kelelahan bersuara juga harus diperhatikan. Penggunaan alkohol, merokok, dan obat-obatan tertentu sebaiknya dihindari karena dapat mempengaruhi kondisi permukaan plikavokalis. Salah satu penyebab iritasi laring adalah refkuks dari esofagus. Hal ini dapat mempercepat kelelahan bersuara karena akan mengakibatkan hilangnya lapisan mukus permukaan pita suara serta terkelupasnya epitel. Beberapa hal yang dianjurkan untuk mencegah refluks antara lain, pertama menghindari konsumsi kafein dan coklat karena akan mengakibatkan relaksasi spinkter esofagus. Kedua, hindari makan dan minum pada jam tidur dan sebaiknya tunggu 2-3 jam setelah makan baru kemudian tidur atau posisi ditinggikan. Bila sudah ada gejala refluks mungkin diperlukan obat-obatan untuk menetralisir asam lambung atau mengurangi produksinya.
  • Ada beberapa pendekatan penatalaksanaan. 
    • Pertama, terapi suara dengan komponen utama berupa edukasi dasar anatomi dan fisiologi produksi suara. Pasien harus mengerti hubungan antara gangguan suara dan penyebabnya sehingga lebih menyadari apa yang boleh dilakukan dan apa yang dihindari. 
    • Kedua, konservasi suara yang prinsipnya lebih praktis dan realistis dibandingkan terpai suara. Caranya adalah dengan mengurangi penggunaan suara atau istirahat bersuara (vocal rest) pada pasien dengan laringitis akut, disamping pemberian obat-obatan, yang bertujuan mengurangi oedem jaringan. Perlu juga mengurangi sumber penyalahgunaan suara dan menggunakan alat pengeras suara. 
    • Terapi tingkah laku suara ditujukan untuk meningkatkan aspek teknik penggunaan suara termasuk pernapasan perut, latihan penggunaan tinggi nada dan istirahat yang benar, meningkatkan phrasing dan tehnik-tehnik spesifik lainnya. 
    • Terapi medikamentosa terutama ditujukan untuk mengurangi oedem jaringandengan pemberian obat-obat anti inflamasi steroid atau nonsteroid. Indikasi penggunaan antibiotik atau dekongestan antihistamin pada pasien dengan suara parau jarang walaupun pada pasien juga terdapat rhinosinusitis atau bakterial laringotrakeitis, yang mungkin menyebabkan terjadi komplikasi pada pasien dengan suara parau.
    • Indikasi tindakan bedah dilakukan tergantung penyebab dari suara parau. Misalnya adanya suatu nodul atau polip yang terdapat pada pita suara maka tindakan bedah mungkin diperlukan selain juga harus menghilangkan faktor pencetus terbentuknya nodul atau polip akibat penyalahgunaan suara. Pada beberapa kondisi tertentu suara parau memerlukan terapi yang spesifik.

Penatalaksanaan secara umum dapat dilakukan sebagai berikut.

    1. Terapi konservatif  dimana Setiap tindakan dilakukan untuk mengidentifikasi dan menghilangkan faktor penyebab seperti stres, merokok, dan alkohol. Minum banyak air putih dapat mencegah tenggorokan dari kekeringan.Istirahat berbicara selama dua sampai tiga hari.
    2. Terapi Wicara aitu Speech therapist memegang peranan penting dalam memberikan terapi terhadap pasien dengan gangguan pada suara, misal oleh karena vocal nodule dan kesalahan penggunaan suara.
    3. Terapi medikamentosa dengan obat dimana infeksi saluran pernafasan atas seringkali disebabkan oleh infeksi virus. Tirah baring, pemberian parasetamol atau larutan aspirin gargle dapat diberikan. Pemberian antibiotik dianjurkan jika terdapat infeksi bakteri. Nasal spray diberikan pada pasien dengan inflamasi kronik sinus. Pada pasien dengan gastroesofageal refluk, dapat diberikan medikasi untuk mengurangi sekresi asam lambung.
    4. Pembedahan dianjurkan untuk diagnosis (contoh:biopsi) dan terapi (contoh: mengambil massa tumor dan laser surgery). Operasi dapat dilakukan dengan fibre optic endoscope dengan anestesi umum. Pembedahan pada penyebab suara parau non-cancer hanya diindikasikan jika penatalaksanaan dengan cara lain gagal.

PENCEGAHAN

  • Mengistirahatkan suara dengan cara berbisik atau tidak berbicara
  • Mengonsumsi banyak cairan dan istirahat
  • Mengevaluasi apakah memiliki infeksi jamur atau tidak, khususnya pada orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah atau menggunakan inhaler kortikosteroid untuk asma
  • Mengatasi jumlah asam berlebih di perut jika akibat acid reflux
  • Belajar teknik bernapas, berbicara dan bernyanyi yang tepat
  • Menghindari rokok, asap rokok dan alkohol
  • Mengurangi kontak atau paparan iritasi seperti debu atau uap dari zat kimia.

Mengenal Tumor Ganas Laring

 

21 November 2007

Technorati Tags: ,

Mengenal Tumor Ganas Laring Penemuan kasus-kasus stadium awal atau deteksi dini keganasan laring sangat penting dalam meningkatkan keberhasilan pengobatan keganasan laring. Untuk meningkatkan penemuan kasus-kasus dalam stadium dini keganasan laring, perlu ditingkatkan kepedulian masyarakat dan tenaga kesehatan atas gejala-gejala dini keganasan laring. Laring merupakan bagian paling bawah dari saluran napas atau yang berbentuk limas segi tiga terpancung dengan bagian atas lebih besar dari pada bagian bawah. Kerangka laring tersusun dari satu tulang (hioid) dan beberapa tulang rawan (epiglottis, aritenoid dan krikoid). Gerak laring dilakukan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan intrinsik. Otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara keseluruhan sedangkan otot intrinsik menyebabkan gerak di bagian laring sendiri. "Laring terbagi menjadi tiga daerah anatomi yaitu supraglotis, glotis dan subglotis. Kurang lebih 60 persen keganasan laring ditemukan di daerah glottis, 35 persen berasal dari daerah supraglotis dan hanya 5 persen berasal dari subglotis. Pada stadium lanjut biasanya tumor sudah meluas ke glottis, supraglotis dan subglotis atau transglotis sehingga sulit ditentukan asalnya," ujar Prof. dr. Bambang Hermani, Sp. THT-KL(K), dari Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI RSCM). Laring merupakan organ vital pada tubuh manusia yang berfungsi sebagai organ mempertahankan jalan napas, melindungi jalan napas dan paru paru, membantu mengatur sirkulasi, sumber suara atau fonasi, membantu proses menelan, dan mengekspresikan emosi. Adanya gangguan atau kelainan pada laring akan menyebabkan pula gangguan fungsi laring yang dapat menurunkan kualitas hidup, bahkan dapat menyebabkan kematian. "Suara serak adalah gejala dini yang utama pada keganasan laring, terutama bila tumor berasal dari pita suara atau glottis. Ini disebabkan adanya gangguan fungsi fonasi laring akibat ketidakteraturan pita suara, gangguan pergerakan/getaran pita suara dan penyempitan celah pita suara. Seseorang dengan suara serak yang menetap selama dua minggu atau lebih, apalagi mempunyai faktor resiko yang sesuai, harus diwaspadai adanya keganasan laring (glottis). Sementara untuk tumor supraglotis dan subglotis, suara serak bukan merupakan keluhan pertama namun biasanya akan timbul jika tumor sudah menyebar ke pita suara," paparnya. Sesak napas atau dispnea dan napas berbunyi (stridor), lanjutnya, adalah gejala akibat gangguan jalan napas oleh massa tumor serta sudah terjadinya fiksasi gerak pita suara. Adanya gejala-gejala tersebut menjadi tanda tumor sudah masuk ke stadium yang lebih lanjut. "Nyeri menelan batuk dan hemoptisis serta disfagia dapat timbul tergantung dari perluasan tumor. Adanya pembesaran kelenjar getah bening leher dipertimbangkan sebagai penyebaran tumor dan ini menunjukkan tumor sudah stadium lanjut," tandasnya. Penyebab tumor ganas laring sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat berbagai macam faktor risiko yang terkait dengan perkembangan tumor ganas laring. "Rokok adalah faktor risiko yang memiliki kaitan paling kuat dengan keganasan laring maupun keganasan di saluran aerodigestif lain seperti esophagus dan paru. Dari studi yang dilakukan Maier dan DeStefani secara terpisah ditemukan 96,5 persen dan 97,2 persen pasien dengan keganasan laring adalah perokok atau mantan perokok. Penelitian Wynder menyebutkan, terdapat peningkatan risiko sebesar 30 kali pada pria yang merokok sedikitnya satu setengah bungkus sehari selama lebih dari sepuluh tahun sedangkan penelitian yang dilakukan di RSCM pada tahun 1988 didapatkan 89 persen penderita tumor ganas laring adalah perokok berat," terangnya. Alkohol juga merupakan faktor risiko dari keganasan laring. Menurut American Cancer Society tahun 2000, risiko relatif peminum alkohol meningkat lima kali dibandingkan dengan yang tidak minum alkohol sedangkan perokok jika digabung dengan peminum alkohol mempunyai risiko 100 kali dibandingkan dengan yang tidak merokok dan tidak peminum. "Faktor risiko pekerjaan hubungan antara pekerjaan dengan perkembangan keganasan laring jarang ditemukan dan tidak terdokumentasi dengan baik. Tetapi dilaporkan pajanan yang lama dengan debu kayu, asbes, produk tar dan beberapa debu industri kimia juga merupakan faktor risiko terjadinya keganasan laring," tukasnya. Di samping faktor-faktor di atas, diet dan defisiensi vitamin A dan C ditengarai juga menjadi faktor risiko. Mettlin menyebutkan, terdapat peningkatan 4,75 kali lipat pada orang yang mengonsumsi buah-buahan sayuran kurang dari 40 kali per bulan dibandingkan yang mengonsumsi lebih dari 80 kali per bulan. Selain itu, Gastro Esophageal Reflux Disease (GERD) dan Human Papilloma Virus (HPV) juga dilaporkan sebagai salah satu faktor risiko. Tumor ganas laring, dia menambahkan, dapat dijumpai di berbagai belahan dunia dengan insiden yang bervariasi. Menurut laporan The American Cancer Society tahun 2006 di Amerika tercatat 12.000 kasus baru dan 4740 kasus meninggal karena tumor ganas laring. Pusat Kanker Nasional Amerika melaporkan 8,5 kasus karsinoma laring ditemukan per 100.000 penduduk laki-laki dan 1,3 kasus per 100.000 penduduk wanita per tahun. Di beberapa negara Eropa tumor ganas laring merupakan tumor ganas terbanyak di bidang THT-KL. Sementara laporan WHO yang mencakup 35 negara memperkirakan 1,5 orang dari 100.000 penduduk meninggal karena tumor ganas laring. "Di Indonesia angka kekerapan tumor ganas laring belum dapat didata secara pasti, tetapi dapat diperkirakan mencapai kurang lebih 1 persen dari semua keganasan dan menempati urutan ketiga tumor ganas terbanyak di bidang THT setelah tumor ganas nasofaring dan tumor ganas hidung dan sinus paranasal. Di Bagian THT FKUI RSCM selama periode 1982 sampai 1987 dilaporkan proporsi tumor ganas laring sebesar 13,8 persen dari 1030 kasus keganasan THT. Sampai saat ini ditemukan rata-rata 40 kasus per tahun sedangkan di Bandung 20 kasus, Denpasar 6 kasus, Malang 12 kasus dan Surabaya 25 kasus," dia menjabarkan. Untuk jenis kelamin, imbuhnya, perbandingan penderita laki-laki dan perempuan berkisar antara 11:1 di mana terbanyak pada usia 45-60 tahun. Namun, akhir-akhir ini jumlah penderita perempuan semakin meningkat, yang menurutnya kemungkinan diakibatkan adanya kecenderungan makin banyak perempuan yang merokok. "Di Indonesia umumnya penderita tumor ganas laring datang berobat sudah dalam stadium lanjut. Data di RSCM 80 persen penderita pertama kali didiagnosis dalam stadium 3 dan stadium 4. Stadium penyakit pada waktu pertama kali didiagnosis akan mempengaruhi metode pengobatan, kecacatan dan harapan hidup penderita," tegasnya. Secara umum, dia menyatakan, terdapat tiga jenis penatalaksanaan keganasan laring yaitu operasi, radiasi dan kemoterapi atau kombinasi dua atau tiga modalitas tersebut. Pengobatan yang dipilih bergantung pada stadium perluasan invasi tumor menurut klasifikasi TNM sedangkan tindakan operasi yang dilakukan dapat berupa pengangkatan seluruh organ laring (laringektomi total) atau pengangkatan sebagian dari organ laring (laringektomi parsial). "Pada laringektomi parsial dapat berupa hemilaringektomi atau supraglotik laringektomi, tergantung dari lokasi dan penyebaran tumor. Laringektomi total sebagai terapi pada pasien keganasan laring akan menyebabkan kecacatan. Dengan pengangkatan seluruh organ laring beserta pita suara yang ada di dalamnya, maka pasien akan menjadi tidak dapat bersuara atau afoni dan selanjutnya bernapas melalui lubang di leher berupa stoma permanen," katanya. Dia mengutarakan, secara umum rehabilitasi pascaoperasi bertujuan agar pasien dapat bersosialisasi dan berkomunikasi kembali dan bisa hidup mandiri. Unsur terpenting dalam rehabilitasi adalah rehabilitasi suara, di samping rehabillitasi secara psikolgis. Rehabilitasi suara dapat dilakukan melalui teknik ‘esophageal speech’ yaitu dengan cara menelan udara dan mengumpulkannya di dalam esophagus/lambung kemudian dikeluarkan secara terkontrol untuk menghasilkan suara. "Untuk pasien yang tidak dapat mempelajari teknik ‘esophageal speech’ dapat memakai alat bantu berupa vibrator listrik untuk menghasilkan suara. Selain itu, salah satu usaha untuk mengatasi afoni adalah dengan memasang ‘voice prostese’ pada daerah tracheaesophageal. Pemasangan ini dapat dilakukan pada waktu operasi (primer) atau beberapa saat setelah operasi (sekunder). Cara ini dapat menghasilkan suara paling baik, hanya kendalanya adalah harganya yang masih relatif mahal dan memerlukan perawatan khusus," sahutnya.

KBI Gemari