Soal- Soal dr. X2

Soal-soal dr. X2

1. Sebutkan pembagian os temporal ?
2. Dibagian mana organon corti terletak ?
3. Otitis Eksterna apa yang menyebabkan parese N. VII, ceritakan patogenesanya ?
4. Kemungkinan apa yang terjadi pada stadium resolusi OMA ?
5. Kenapa disebut OMSK tipe maligna ?
6. Kolesteatoma ada berpa macam ceritakan !
7. Abses Peritonsil : gejala klinis, tanda klinis, patofiologi.
8. Otitis Eksterna maligna : gejala klinis, tanda klinis, kenapa bisa paresis n. VII
9. Coriza terangkan ?
10. Sindroma gradinegro terangkan?
11. Fraktur os temporal horisontal dan transversal ?
12. Ciri Tonsilitis SBGHA ?
13. Jenis-jenis mastoiditis dan patogenesisnya ?
14. Apa saja otot-otot pembuka tuba (7) , mengapa selalu tertutup , fase penutupan tuba ?
15. Bila terjadi perforasi kenapa terjadi HL ?
16. Barotrauma pada orang naik pesawat , terangkan ? kenapa hanya pada org tertentu ?
17. Variasi anatomi tuba ?
18. sebutkan fase terbukanya tuba ?
19. Penampang melintang tuba pars kartilago ?
20. Beda abses peritonsil dengan infiltrat ? kenapa infiltrat tidak boleh diinsisi ?
21. Septum deviasi bisa menyebabkan sinusitis bagaimana patofisologinya ?
22. MCT pada sinus max dan frontal ?
23. OMA : definisi, stadium, penatalaksanaan, tujuan PC, apa yang terjadi pada stad resolusi ?
24. OMA sebabkan paresis N. VII ? apertura korda timpani posterior
25. Perjalanan N VII, penilaian paresis N VII apa saja : tipe, lokasi, derajat, kausa
26. Ceritakan masing-masing test untuk menentukan lokasi ?

Sinusitis Kronik

Biaya Operasi Sinusitis ditanyakan ke RS dengan pengantar operasi dari dokter THT yang akan mengoperasi

dr. Henny Kartikawati SpTHT

Sinusitis Kronis

Defenisi sinusitis kronis. adalah sinusitis yang berlangsung lebih 3 bulan.

Etiologi sinusitis kronis.
Infeksi kronis pada sinusitis kronis dapat disebabkan :

  1. Gangguan drainase. Gangguan drainase dapat disebabkan obstruksi mekanik dan kerusakan silia.
  2. Perubahan mukosa. Perubahan mukosa dapat disebabkan alergi, defisiensi imunologik, dan kerusakan silia.
  3. Pengobatan. Pengobatan infeksi akut yang tidak sempurna.
  4. kerusakan silia dapat disebabkan oleh gangguan drainase, perubahan mukosa, dan polusi bahan kimia.

Gejala sinusitis kronik.

Secara subjektif, sinusitis kronis memberikan gejala:

  • Hidung. Terasa ada sekret dalam hidung.
  • Nasofaring. Terasa ada sekret pasca nasal (post nasal drip). Sekret ini memicu terjadinya batuk kronis.
  • Faring. Rasa gatal dan tidak nyaman di tenggorok.
  • Telinga. Gangguan pendengaran karena sumbatan tuba Eustachius.
  • Kepala. Nyeri kepala / sakit kepala yang biasanya terasa pada pagi hari dan berkurang atau menghilang setelah siang hari.
  • Penyebabnya belum diketahui pasti. Mungkin karena malam hari terjadi penimbunan ingus dalam sinus paranasal dan rongga hidung serta terjadi stasis vena.
  • Mata. Terjadi infeksi mata melalui penjalaran duktus nasolakrimalis.
  • Saluran napas. Terjadi batuk dan kadang-kadang terjadi komplikasi pada paru seperti bronkitis, bronkiektasis, dan asma bronkial.
  • Saluran cerna. Terjadi gastroenteritis akibat tertelannya mukopus. Sering terjadi pada anak-anak.

Secara objektif, gejala sinusitis kronis tidak seberat sinusitis akut. Tidak terjadi pembengkakan wajah pada sinusitis kronis. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan sekret kental purulen di meatus nasi medius dan meatus nasi superior. Sekret purulen juga ditemukan di nasofaring dan dapat turun ke tenggorok pada pemeriksaan rinoskopi posterior.

Pemeriksaan mikrobiologik sinusitis kronis. Biasanya sinusitis kronis terinfeksi oleh kuman campuran, bakteri aerob (S. aureus, S. viridans & H. influenzae) dan bakteri anaerob (Peptostreptokokus & Fusobakterium).

Diagnosa sinusitis kronis

Sinusitis kronis didiagnosa berdasarkan anamnesis, pemeriksaan rinoskopi (anterior & posterior) dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dapat kita gunakan antara lain pemeriksaan radiologik, pungsi sinus maksila, sinoskopi sinus maksila, pemeriksaan histopatologik (dari jaringan yang diambil saat melakukan sinoskopi), nasoendoskopi (meatus nasi medius & superior) dan CT scan.

Terapi sinusitis kronis

dapat ditangani dengan cara :

  1. Medikamentosa. Pemberian antibiotik selama minimal 2 minggu dan obat simptomatik lainnya.
  2. Tindakan. Meliputi diatermi, pungsi & irigasi sinus (sinusitis maksila), pencucian Proetz (sinusitis etmoid, sinusitis frontal & sinusitis sfenoid), pembedahan radikal & tidak radikal.
  3. Diatermi menggunakan gelombang pendek di daerah sinus paranasal yang sakit selama 10 hari.

Pungsi & irigasi sinus dan pencucian Proetz dilakukan 2 kali seminggu. Jika tindakan ini telah kita lakukan lebih 5-6 kali namun masih belum ada perbaikan dimana sekret purulen masih tetap banyak maka keadaan ini kita anggap telah irreversibel. Artinya mukosa sinus paranasal tidak dapat lagi kembali normal. Hal ini dapat diketahui dengan pemeriksaan sinoskopi dan dapat diatasi dengan tindakan operasi radikal. Pemeriksaan sinoskopi melihat langsung antrum (sinus maksila) menggunakan bantuan endoskopi.

Operasi radikal dilakukan setelah pengobatan konservatif tidak berhasil. Tindakan ini bertujuan mengangkat mukosa sinus paranasal yang patologis atau melakukan drainase sinus paranasal yang sakit. Ada beberapa jenis operasi radikal pada sinusitis paranasal, yaitu :

Operasi Caldwell-Luc

Pembedahan untuk sinusitis maksila.
Etmoidektomi. Pembedahan untuk sinusitis etmoid.
Operasi Killian. Pembedahan untuk sinusitis frontal.
Belakangan ini, para ahli mengembangkan tindakan pembedahan sinus paranasal yang bukan radikal dengan menggunakan bantuan endoskopi. Prinsipnya membuka dan membersihkan daerah kompleks osteomeatal sebagai sumber sumbatan dan infeksi sehingga ventilasi dan drainase sinus paranasal lancar kembali melalui ostium alami. Akhirnya sinus paranasal diharapkan dapat normal kembali. Tindakan ini disebut Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF).

Komplikasi sinusitis kronis

Sinusitis kronis dapat menyebabkan :

  1. Osteomielitis.
  2. Abses subperiosteal.
  3. Kelainan orbita.
  4. Kelainan intrakranial.
  5. Kelainan paru-paru.
  6. Osteomielitis dan abses subperiosteal biasanya akibat sinusitis frontal dan lebih banyak terjadi pada usia anak-anak. Osteomielitis akibat sinusitis maksila dapat menyebabkan fistula oroantral.

Kelainan orbita paling banyak disebabkan oleh sinusitis etmoid kemudian berturut-turut akibat sinusitis frontal dan sinusitis maksila. Penyebaran infeksinya melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum.

Kelainan orbita tersebut meliputi :

  • Edema palpebra.
  • Selulitis orbita.
  • Abses subperiosteal.
  • Abses orbita.
  • Trombosis sinus kavernosus.
  • Kelainan intrakranial berupa :
  • Meningitis.
  • Abses ekstradural.
  • Abses subdural.
  • Abses otak.
  • Trombosis sinus kavernosus.
  • Kelainan sinus paranasal yang disertai dengan kelainan paru-paru disebut sinobronkitis.
  • Kelainan paru-paru ini berupa :
  • Bronkitis kronis.
  • Bronkiektasis.
  • Asma bronkial.
  • Daftar Pustaka

Endang Mangunkusumo & Nusjirwan Rifki. Rinorea, Infeksi Hidung dan Sinus dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5. dr. H. Efiaty Arsyad Soepardi, Sp.THT & Prof. dr. H. Nurbaiti Iskandar, Sp.THT (editor). Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.
Oleh : Muhammad al-Fatih II

https://konsultasispesialis.com #dokterthtsemarang @drhennytht
https://dokter-tht-spesialis.com
RS SMC Telogorejo Semarang
RS Columbia Asia Semarang

Technorati Tags: , , ,

Sinusitis Akut

Sinusitis Akut
Oleh : Muhammad al-Fatih II
Defenisi sinusitis akut. Sinusitis akut adalah sinusitis yang berlangsung sampai 4 minggu atau memiliki tanda-tanda peradangan akut. Peradangan ini dapat dimulai dari sumbatan pada daerah kompleks osteomeatal atau dari penyebaran infeksi gigi. Sumbatan tersebut dapat disebabkan oleh terjadinya infeksi, obstruksi mekanik dan alergi.

Etiologi sinusitis akut. Sinusitis akut dapat disebabkan oleh :

  • Rinitis akut.
  • Faringitis.
  • Adenoiditis.
  • Tonsilitis akut.
  • Dentogen. Infeksi yang berasal dari gigi rahang atas seperti M1, M2, M3, P1 & P2.
  • Berenang.
  • Menyelam.

Trauma. Menyebabkan perdarahan mukosa sinus paranasal.
Barotrauma. Menyebabkan nekrosis mukosa sinus paranasal.

Gejala sinusitis akut.
Sinusitis akut memiliki gejala subjektif dan gejala objektif. Gejala subjektif bersifat sistemik dan lokal. Gejala sistemik berupa demam dan rasa lesu. Gejala lokal dapat kita temukan pada hidung, sinus paranasal dan tempat lainnya sebagai nyeri alih (referred pain). Gejala pada hidung dapat terasa adanya ingus yang kental & berbau mengalir ke nasofaring. Selain itu, hidung terasa tersumbat. Gejala pada sinus paranasal berupa rasa nyeri dan nyeri alih (referred pain).

Gejala subjektif yang bersifat lokal pada sinusitis maksila berupa rasa nyeri dibawah kelopak mata dan kadang tersebar ke alveolus sehingga terasa nyeri di gigi. Nyeri alih (referred pain) dapat terasa di dahi dan depan telinga. Gejala sinusitis etmoid berupa rasa nyeri pada pangkal hidung, kantus medius, kadang-kadang pada bola mata atau dibelakang bola mata. Akan terasa makin sakit bila pasien menggerakkan bola matanya. Nyeri alih (referred pain) dapat terasa pada pelipis (parietal). Gejala sinusitis frontal berupa rasa nyeri yang terlokalisir pada dahi atau seluruh kepala. Gejala sinusitis sfenoid berupa rasa nyeri pada verteks, oksipital, belakang bola mata atau daerah mastoid.

Gejala objektif sinusitis akut yaitu tampak bengkak pada muka pasien. Gejala sinusitis maksila berupa pembengkakan pada pipi dan kelopak mata bawah. Gejala sinusitis frontal berupa pembengkakan pada dahi dan kelopak mata atas. Pembengkakan jarang terjadi pada sinusitis etmoid kecuali ada komplikasi.

Rinoskopi sinusitis akut. Pemeriksaan rinoskopi anterior menampakkan mukosa konka nasi hiperemis dan edema. Terdapat mukopus (nanah) di meatus nasi medius pada sinusitis maksila, sinusitis forntal, dan sinusitis etmoid anterior. Nanah tampak keluar dari meatus nasi superior pada sinusitis etmoid posterior dan sinusitis sfenoid. Pemeriksaan rinoskopi posterior menampakkan adanya mukopus (nanah) di nasofaring (post nasal drip).

Pemeriksaan sinusitis akut. Pemeriksaan penunjang berupa transiluminasi dan radiologik dapat kita gunakan untuk membantu diagnosa sinusitis akut. Pemeriksaan transiluminasi menampakkan sinus paranasal yang sakit lebih suram / lebih gelap daripada sinus paranasal yang sehat. Pemeriksaan radiologik dapat menggunakan posisi Waters, PA, atau lateral. Akan tampak adanya perselubungan, penebalan mukosa, atau batas cairan-udara (air fluid level).

Sebaiknya kita mengambil sekret dari meatus nasi medius atau meatus nasi superior pada pemeriksaan mikrobiologik. Mikrobiologi yang mungkin kita temukan yaitu bakteri, virus atau jamur. Bakteri yang berfungsi sebagai flora normal di hidung maupun bakteri patogen keduanya bisa kita dapatkan. Bakteri patogen seperti Pneumococcus, Streptococcus, Staphyloccus, dan Haemophilus influenzae.

Terapi sinusitis akut. Sinusitis akut dapat kita terapi dengan pengobatan (medikamentosa) dan pembedahan (operasi).

Ada 3 jenis obat yang dapat kita berikan pada pasien sinusitis akut, yaitu :

Antibiotik. Berikan golongan penisilin selama 10-14 hari meskipun gejala klinik sinusitis akut telah hilang.
Dekongestan lokal. Berupa obat tetes hidung untuk memperlancar drainase hidung.
Analgetik. Untuk menghilangkan rasa sakit.
Pembedahan (operasi) pada pasien sinusitis akut jarang kita lakukan kecuali telah terjadi komplikasi ke orbita atau intrakranial. Selain itu nyeri yang hebat akibat sekret yang tertahan oleh sumbatan dapat menjadi indikasi untuk melakukan pembedahan.

Daftar Pustaka

Endang Mangunkusumo & Nusjirwan Rifki. Sinusitis dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5. dr. H. Efiaty Arsyad Soepardi, Sp.THT & Prof. dr. H. Nurbaiti Iskandar, Sp.THT (editor). Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.

Technorati Tags: , ,

Faringitis Kronis

Faringitis Kronis
Oleh : Muhammad al-Fatih II
Jenis faringitis kronis. Faringitis kronis memiliki 2 tipe yaitu hiperplastik dan atrofi.

Faringitis Kronis Hiperplastik

Patologi faringitis kronis hiperplastik. Terjadi perubahan mukosa dinding posterior faring dan hiperplasia kelenjar limfa dibawah mukosa faring & lateral band. Juga ditandai oleh adanya jaringan granular sehingga mukosa dinding posterior faring menjadi tidak rata.

Gejala faringitis kronis hiperplastik. Awalnya tenggorok rasa gatal dan kering kemudian terjadi batuk.

Terapi faringitis kronis hiperplastik. Kita dapat mengobatinya dengan kaustik faring menggunakan larutan nitras argenti atau listrik (electro cauter). Selain itu diperlukan pengobatan simptomatik menggunakan obat kumur, tablet hisap dan obat batuk (antitusif dan ekspektoran). Harus diobati penyakit lain yang berasal dari hidung dan sinus paranasal.

Faringitis Kronis Atrofi

Faringitis kronis atrofi sering timbul bersamaan dengan rinitis atrofi. Udara pernapasan yang tidak teratur suhu dan kelembabannya akan menyebabkan rangsangan dan infeksi faring.

Gejala & tanda faringitis kronis atrofi. Gejalanya berupa tenggorok rasa kering dan tebal. Mulut berbau. Mukosa faring tertutup oleh lendir kental. Tampak mukosa faring yang kering setelah kita mengangkat lendir tersebut.

Terapi faringitis kronis atrofi. Obati terlebih dahulu rinitis atrofi. Setelah itu obati faringitis kronis atrofi dengan obat kumur dan menjaga kesehatan mulut.

Etiologi faringitis kronis. Belum diketahui secara pasti namun ada beberapa faktor predisposisi yang dianggap berhubungan dengan faringitis kronis seperti :

Rinitis kronis.
Sinusitis.
Iritasi kronis. Akibat rokok dan alkohol.
Inhalasi. Akibat uap yang merangsang mukosa faring dan debu.
Kebiasaan. Bernapas melalui mulut akibat hidung tersumbat.
Daftar Pustaka

Rusmarjono & Efiaty Arsyad Soepardi. Penyakit Serta Kelainan Faring & Tonsil dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5. dr. H. Efiaty Arsyad Soepardi, Sp.THT & Prof. dr. H. Nurbaiti Iskandar, Sp.THT (editor). Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.

Technorati Tags: , ,