Peranan sistem imun seluler sel kanker

Oleh : Binarwan Halim, M. Fauzie Sahil

 

Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001 47

Pada pemeriksaan patologi-anatomik tumor, sering ditemukan infiltrat sel-sel yang terdiri atas sel fagosit mononuklear, limfosit, sedikit sel plasma dan sel mastosit. Meskipun pada beberapa neoplasma, infiltrasi sel mononuklear merupakan indikator untuk prognosis yang baik, pada umumnya tidak ada hubungan antara infiltrasi sel dengan prognosis. Sistem imun yang nonspesifik dapat langsung menghancurkan sel tumor tanpa sensitisasi sebelumnya. Efektor sistem imun tersebut adalah sel Tc, fagosit mononuklear, polinuklear, Sel NK.(3,5). Aktivasi sel T melibatkan sel Th dan Tc. Sel Th penting pada pengerahan dan aktivasi makrofag dan sel NK.

a) Sitotoksitas melalui sel T

Kontak langsung antara sel target dan limfosit T menyebabkan interaksi antara reseptor spesifik pada permukaan sel T dengan antigen membran sel target yang mencetuskan induksi kerusakan membran yang bersifat lethal. Peningkatan kadar cyclic Adenosine Monophosphate (cAMP) dalam sel T dapat menghambat sitotoksisitas dan efek inhibisi

Prostaglandin (PG) E 1 dan PGE2 terhadap sitotoksisitas mungkin diperantarai cAMP. Mekanisme penghancuran sel tumor yang pasti masih belum diketahui walaupun pengrusakan membran sel target dengan hilangnya integritas osmotik merupakan peristiwa akhir. Pelepasan Limfotoksin (LT), interaksi membran-membran langsung dan aktifitas T cell associated enzyme seperti phospholipase diperkirakan merupakan penyebab rusaknya membran(1,6)

.

Interleukin (IL), interferon (IFN) dan sel T mengaktifkan pul asel Natural Killer (NK). Sel ini berbentuk large granulocytic lymphocyte (LGL). Kebanyakan sel ini mengandung reseptor Fc dan banyak yang mengekspresikan antigen sel T. Lisis sel target dapat terjadi tanpa paparan pendahuluan dan target dapat dibunuh langsung. Sel NK menunjukkan beberapa spesifisitas yang lebih luas terhadap target tumor yang biasanya dibunuh lebih cepat dibanding sel normal(1,2)

Kematian sel tumor dapat sebagai akibat paparan terhadap toxin yang terdapat dalam granula LGL, produksi superoksida atau aktivitas protease serine pada permukaan sel

efektor. Sel NK diaktivasi IFN dan II-2 in vitro. Aktivitas NK dapat dirangsang secara in vitro dengan pemberian IFN, inducer atau imunostimulan seperti Bacille Calmette Guerin

(BCG) dan Corynebacterium (C) parvum. Penghambatan aktivasi sel NK terlihat pada beberapa PG (PGE1, PGE2, PGA1 dan PGA2), phorbol ester, glukokortikoid dan

siklofosfamid. Pada banyak kasus, agen ini langsung mempengaruhi aktivitas NK, sel supresor juga dapat mempengaruhi sel NK. Sel NC (Natural Cytotoxic) juga

teridentifikasi menghancurkan sel tumor. Berbeda dengan sel NK, sel NC kelihatannya distimulasi oleh IL-3 dan relatif tahan terhadap glukokortikoid dan siklofosfamid. Populasi LAK (lymphocyte activated killer) cell dapat tumbuh di bawah pengaruh IL-2 (7,8)

.

b) Sitotoksisitas melalui makrofag

Makrofag yang teraktivasi berikatan dengan sel neoplastik lebih cepat dibanding dengan sel normal. Pengikatan khusus makrofag yang teraktivasi ke membran sel tumor adalah

melalui struktur yang sensitif terhadap tripsin. Pengikatan akan bertambah kuat dan erat dalam 1 sampai 3 jam dan ikatan ini akan mematikan sel. Sekali pengikatan terjadi, mekanisme sitotoksisitas melalui makrofag berlanjut dengan transfer enzim

lisosim, superoksida, protease, faktor sitotoksis yang resisten terhadap inhibitor protease dan yang menyerupai LT(1,3)

Sekali teraktivasi, makrofag dapat menghasilkan PG yang dapat membatasi aktivasinya sendiri. Makrofag yang teraktivasi dapat menekan proliferasi limfosit, aktivitas NK dan produksi mediator. Aktivasi supresi dapat berhubungan dengan pelepasan PG atau produksi superoksida. Sebagai tambahan, makrofag dapat merangsang dan juga menghambat pertumbuhan sel tumor, yang bergantung dengan bagian yang rentan dari sel tumor, ratio makrofag dengan sel target dan status fungsional makrofag. Indometasin dapat menghambat efek perangsangan makrofag pada pertumbuhan tumor ovarium

yang diperkirakan prostaglandin mungkin berperan sebagai mediatornya (2)

Macrophage derived factor dapat merangsang pertumbuhan tumor dan menekan imunitas sel T. Akumulasi makrofag dalam tumor mungkin menggambarkan interaksi makrofag kompleks dari beberapa faktor dan juga kinetik produksi monosit oleh sumsum tulang. Jadi status fungsional makrofag dalam tumor juga berperan selain jumlahnya (5,9)

 

Makrofag bila diaktifkan oleh limfokin, endotoksin, RNA dan IFN akan menunjukkan aktivasi berupa adanya perubahan morfologik, biokimiawi dan fungsi sel. Makrofag yang

diaktifkan biasanya menjadi sitotoksik nonspesifik terhadap sel tumor in vitro. Makrofag dapat pula berfungsi sebagai efektor pada ADCC terhadap tumor. Di samping itu makrofag dapat menimbulkan efek negatif berupa supresi yang disebut makrofag supresor. Hal tersebut dapat disebabkan oleh tumor itu sendiri atau akibat pengobatan (2,10)

 

Kepustakaan

1. Bast CR. Principles of Cancer Biology : Tumor Immunology. Dalam : Devita VT, Rosenberg SA, Hellman W. eds. Cancer Principles and Practice of Oncology, Ed V, Philadelphia : Lippincett-Reven, 1997; 267-83.

2. Disaia PJ, Creasman WT, Tumor Immunology, Host Defense Mechanism and Biologic Therapy. Dalam : Disaia JP. Creasman WT. Eds. Clinical Gynecology Oncology, Ed IV, Philadelphia L: Mosby 1997; 534-75.

3. Bast RC, Bookman MA, Knapp RC, Gynecology Tumor Immunology. Dalam Knapp RC, Bast RC, Bookman MA, eds. Gynecology Oncology. Singapore : Mc Graw Hill, Inc, 1993; 56-82

5. Haynes FB, Fauci AS. Disorders of the Immune System. Dalam : Fauci AS, raunwald E, Isselbacher KJ, eds. Harrison’s Principles of Internal Medicine, Ed XIV, New York : Mc Graw Hill, 1998; 1753-76.

9. Mitchell MS. Principles of Immunology and Immunotherapy. Dalam :Morrow CP, Curtin JP, Townsend DE, eds. Synopsis of Gynecologic Oncology. New York : Churchil Livingstone, 1993; 497-507.

Technorati Tags: , , , ,

METASTASIS

Metastasis tidak dimiliki oleh tumor jinak. Metastasis ini hanya dimiliki oleh tumor ganas, maka tumor ganas ini bisa menjadi fatal. metastasis terjadi karena multistep teori, setelah multihit theory —> multistep theory. Protoonkogen dan gen supresor tumor yang telah mutasi, mutasinya semakin parah, dimana sel-sel ganas lepas dari massa primernya yang kemudian menginvasi barier.

Eksisi tumor memang memberikan resiko terjadi mikrometastasis di tempat lain.

Jumlah sel 1-10 sel cukup untuk membuat mikrometastasis.

Keberhasilan metastasis ditentukan oleh :
1. hilangnya ikatan sel tumor dengan sel di dekatnya
2. menginvasi pembuluh darah dan limfe
3. mengatasi mekanisme pertahanan vaskuler
4. menempel pada endotel/ sub endotelial tempat sekundernya
5. intravasasi pada tempat sekundernya
6. membentuk jaringan pembuluh darah

Sifat sel kanker :
1. berproloferasi diluar kendali
2. berinvasi dengan membentuk koloni di tempat lain

Proses karsinogenesis

Inisiasi —> Promosi —-> Progresi

Pengikat antar sel adalah :
1. integrin
2. Cadherins
3. Selectin
4. CD44
5. VCAM, ICAM

Tumor angiogenesis tergantung dari Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF).
VEGF dibentuk oleh :
1. sel tumor yang agresif
2. VEGF menginduksi pembentukan pembuluh darah baru.
3. VEGF bekerja pada endotel vaskuler
4. ekspresi reseptor pada endotel vaskuler normal rendah, tapi tinggi pada pembuluh darah tumor.
5. pemberian monoklonal antibodi thd VEGF (r/ Avastin) bisa menghambat pertumbuhan tumor.

onkologi dasar

ONKOLOGI DASAR

PATOGENESIS KANKER KEPALA LEHER

Banyak dinyatakan mutasi DNA pada kanker kepala leher disebabkan oleh Ebstein Barr Virus (EBV) namun juga dinyatakan bahwa zat kimia karsinogen juga ikut berperan. Berrdasarkan teori terjadinya kanker ( Multi hit Theory ), maka semua itu adalah benar, bahkan bila ditunjang adanya faktor keturunan. Maksud dari Multi Hit theory adalah perubahan kromoson tidak cuma terjadi satu kali saja juga harus terjadi di beberapa tempat dan beberapa kali barulah terjadi mutasi sel kanker. Enzim yang membantuterjadinya karsinogenesis adalah Cytokrom P450.
Bukti kanker nasofaring disebabkan oleh EBV bila didapatkan IgG virus capsid antigen EBV (VCA EBV) meningkat.
Perubahan/ mutasi DNA bisa berupa :

  1. delesi
  2. amplifikasi
  3. translokasi
  4. inversi.

Keadaan ini bila terjadi pada proto onkogen dan gen supresor tumor maka akan ada gangguan pengendalian proliferasi sel dan ketidak mampuan apoptosis sel.
Proto onkogen yang bermutasi akan berubah menjadi onkogen( gen yang memicu tumor) contohnya adalah Ras, Src, Fcs
Sedangkan Gen supresor tumor/ anti onkogen memiliki kemampuan :
1. mengendalikan proliferasi
2. menghambat protoonkogen
3. memperbaiki DNA
4. memicu apoptosis
Contoh gen supresor tumor adalah : Rb, p53, p16, p57 dan NF1

Label: , ,