Ozaena (Rinitis Atrofi)

Rinitis Atrofi (Ozaena)
Oleh : Muhammad al-Fatih II
Rinitis atrofi (Ozaena) merupakan penyakit infeksi hidung yang kronis (rinitis kronis) dan ditandai oleh atrofi mukosa dan tulang konka hidung.

Rinitis atrofi (Ozaena) lebih banyak ditemukan pada wanita, usia 1-35 tahun (terbanyak usia pubertas). Juga lebih sering terdapat pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi lemah dan lingkungan yang buruk.

Penyebab rinitis atrofi (Ozaena) belum diketahui sampai sekarang. Namun ada beberapa keadaan yang dianggap berhubungan dengan terjadinya rinitis atrofi (Ozaena), yaitu :

  • Infeksi setempat.Paling banyak disebabkan oleh Klebsiella Ozaena. Selain golongan Klebsiella, kuman spesifik penyebab lainnya antara lain Stafilokokus, Streptokokus, dan Pseudomonas aeuruginosa.
  • Defisiensi.Defisiensi Fe dan vitamin A.
  • Infeksi sekunder.Sinusitis kronis.
  • Kelainan hormon.
  • Penyakit kolagen. Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun.

Perubahan histopatologi dalam hidung pada rinitis atrofi (Ozaena), yaitu :

  • Mukosa hidung. Berubah menjadi lebih tipis.
  • Silia hidung. Silia akan menghilang.
  • Epitel hidung. Terjadi perubahan metaplasia dari epitel torak bersilia menjadi epitel kubik atau epitel gepeng berlapis.
  • Kelenjar hidung. Mengalami degenerasi, atrofi (bentuknya mengecil), atau jumlahnya berkurang.


Gejala klinik rinitis atrofi (Ozaena),
antara lain :

  • Napas. Napas berbau busuk.
  • Ingus / sekret. Ingus / sekret kental.
  • Kerak / krusta. Kerak / krusta berwarna hijau dan berbau busuk.
  • Penciuman. Penciuman menurun.
  • Hidung. Hidung rasa tersumbat.
  • Kepala. Kepala rasa sakit.

Pemeriksaan THT pada kasus rinitis atrofi (Ozaena) dapat kita temukan :

  • Rongga hidung. Rongga hidung sangat lapang.
  • Konka hidung. Konka nasi media dan konka nasi inferior mengalami hipotrofi atau atrofi.
  • Sekret. Sekret purulen dan berwarna hijau.
  • Krusta. Berwarna hijau.

Pemeriksaan penunjang pada kasus rinitis atrofi (Ozaena) yang dapat kita lakukan antara lain :

  • Transiluminasi.
  • Foto Rontgen. Foto sinus paranasalis.
  • Pemeriksaan mikroorganisme.
  • Uji resistensi kuman.
  • Pemeriksaan darah tepi.
  • Pemeriksaan Fe serum.
  • Pemeriksaan histopatologi.

Terapi rinitis atrofi (Ozaena) bertujuan untuk menghilangkan penyebab dan gejalanya. Ada 2 cara yang dapat kita lakukan untuk mengatasi rinitis atrofi (Ozaena), yaitu :
Pengobatan konservatif. Meliputi pemberian antibiotik, obat cuci hidung, dan simptomatik.
Operatif. Meliputi tindakan implantasi dan menutup.
Pemberian antibiotik pada rinitis atrofi (Ozaena) sebaiknya menggunakan antibiotik spektrum luas dan menyesuaikannya dengan hasil uji resistensi kuman.

Pemberian obat cuci hidung pada rinitis atrofi (Ozaena) bertujuan untuk menghilangkan bau busuk, dan membersihkan sekret & krusta. Bahan obat cuci hidung tersebut terdiri atas 3 pilihan, yaitu :
Betadin. Larutan betadin 1 sdm dalam air hangat 100 cc.
NaCl, NH4Cl, NaHCO3 aaa 9, & aqua 300 cc. Keempat larutan ini dicampur dan diambil 1 sdm lalu dicampur dalam 9 sdm air hangat. Larutan ini dihirup melalui hidung dan dikeluarkan dengan dihembuskan kuat-kuat atau dikeluarkan melalui mulut bila larutan masuk ke dalam nasofaring. Hal ini dilakukan 2 kali sehari.
Larutan garam dapur yang hangat.

Pemberian obat simptomatik pada rinitis atrofi (Ozaena) biasanya dengan pemberian preparat Fe.

Tindakan operatif dengan implantasi untuk menyempitkan rongga hidung.

Tindakan menutup lubang hidung dilakukan pada nares anterior. Penutupan pada koana menggunakan palatal flap. Penutupan ini berguna untuk mengistirahatkan mukosa hidung. Hal ini dilakukan selama 2 tahun.
Daftar Pustaka

Endang Mangunkusumo & Nusjirwan Rifki. Rinorea, Infeksi Hidung dan Sinus dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5. dr. H. Efiaty Arsyad Soepardi, Sp.THT & Prof. dr. H. Nurbaiti Iskandar, Sp.THT (editor). Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.

Technorati Tags: ,

Lanjutkan membaca “Ozaena (Rinitis Atrofi)”

Polip hidung VS Sinusitis

Polip hidung adalah kelainan mukosa hidung dan sinus paranasal terutama kompleks osteomeatal (KOM) di meatus nasi medius berupa massa lunak yang bertangkai, bentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan. Permukaannya licin dan agak bening karena banyak mengandung cairan. Sering bilateral dan multipel. Polip merupakan manifestasi dari berbagai penyakit dan sering dihubungkan dengan sinusitis, rinitis alergi, asma, dan lain-lain.

Polip hidung adalah kelainan mukosa hidung dan sinus paranasal terutama kompleks osteomeatal (KOM) di meatus nasi medius berupa massa lunak yang bertangkai, bentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan. Permukaannya licin dan agak bening karena banyak mengandung cairan. Sering bilateral dan multipel. Polip merupakan manifestasi dari berbagai penyakit dan sering dihubungkan dengan sinusitis, rinitis alergi, asma, dan lain-lain.

Etiologi Polip Hidung

Etiologi polip hidung belum diketahui secara pasti. Namun ada 3 faktor yang berperan dalam terjadinya polip nasi, yaitu :

  • Peradangan. Peradangan mukosa hidung dan sinus paranasal yang kronik dan berulang.
  • Vasomotor. Gangguan keseimbangan vasomotor.
  • Edema.

Peningkatan tekanan cairan interstitial sehingga timbul edema mukosa hidung. Terjadinya edema ini dapat dijelaskan oleh fenomena Bernoulli.

Fenomena Bernoulli merupakan penjelasan dari hukum sunnatullah yaitu udara yang mengalir melalui tempat yang sempit akan menimbulkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya sehingga jaringan yang lemah ikatannya akan terisap oleh tekanan negatif tersebut. Akibatnya timbullah edema mukosa. Keadaan ini terus berlangsung hingga terjadilah polip hidung.
Ada juga bentuk variasi polip hidung yang disebut polip koana (polip antrum koana).

Polip koana (polip antrum koana)
adalah polip yang besar dalam nasofaring dan berasal dari antrum sinus maksila. Polip ini keluar melalui ostium sinus maksila dan ostium asesorisnya lalu masuk ke dalam rongga hidung kemudian lanjut ke koana dan membesar dalam nasofaring.

Diagnosis Polip Hidung

Cara menegakkan diagnosa polip hidung, yaitu :

  • Anamnesis.
  • Pemeriksaan fisik. Terlihat deformitas hidung luar.
  • Rinoskopi anterior. Mudah melihat polip yang sudah masuk ke dalam rongga hidung.
  • Endoskopi. Untuk melihat polip yang masih kecil dan belum keluar dari kompleks osteomeatal.
  • Foto polos rontgen & CT-scan. Untuk mendeteksi sinusitis.
  • Biopsi. Kita anjurkan jika terdapat massa unilat

eral pada pasien berusia lanjut, menyerupai keganasan pada penampakan makroskopis dan ada gambaran erosi tulang pada foto polos rontgen.

Anamnesis untuk diagnosis polip hidung :

  • Hidung tersumbat.
  • Terasa ada massa didalam hidung.
  • Sukar membuang ingus.
  • Gangguan penciuman : anosmia & hiposmia.

Gejala sekunder. Bila disertai kelainan jaringan & organ di sekitarnya seperti post nasal drip, sakit kepala, nyeri muka, suara nasal (bindeng), telinga rasa penuh, mendengkur, gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup.
Terapi Polip Hidung

Ada 3 macam terapi polip hidung, yaitu :

Medikamentosa : kortikosteroid, antibiotik & anti alergi.
Operasi : polipektomi & etmoidektomi.
Kombinasi : medikamentosa & operasi.

Berikan kortikosteroid pada polip yang masih kecil dan belum memasuki rongga hidung. Caranya bisa sistemik, intranasal atau kombinasi keduanya. Gunakan kortikosteroid sistemik dosis tinggi dan dalam jangka waktu singkat. Berikan antibiotik jika ada tanda infeksi. Berikan anti alergi jika pemicunya dianggap alergi.

Polipektomi merupakan tindakan pengangkatan polip menggunakan senar polip dengan bantuan anestesi lokal. Kategori polip yang diangkat adalah polip yang besar namun belum memadati rongga hidung.

Etmoidektomi
atau bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan tindakan pengangkatan polip sekaligus operasi sinus. Kriteria polip yang diangkat adalah polip yang sangat besar, berulang, dan jelas terdapat kelainan di kompleks osteomeatal.

Antibiotik sebagai terapi kombinasi pada polip hidung bisa kita berikan sebelum dan sesudah operasi. Berikan antibiotik bila ada tanda infeksi dan untuk langkah profilaksis pasca operasi.

dr henny kartikawati SpTHT

Daftar Pustaka

Nuty W. Nizar & Endang Mangunkusumo. Polip Hidung dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5. dr. H. Efiaty Arsyad Soepardi, Sp.THT & Prof. dr. H. Nurbaiti Iskandar, Sp.THT (editor). Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.

Oleh : Muhammad al-Fatih II

Technorati Tags: , , ,

Rinitis Alergi

Rinitis Alergi
Oleh : Muhammad al-Fatih II

Rinitis alergi menurut WHO (2001) adalah kelainan pada hidung setelah mukosa hidung terpapar oleh alergen yang diperantarai oleh IgE dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal pada hidung dan hidung tersumbat.

Klasifikasi rinitis alergi, yaitu :

Rinitis alergi intermitten (kadang-kadang). Gejalanya <4 hari/minggu atau > <4 minggu.

sebaliknya yang persisten > 4 hari per minggu atau > 4 minggu

Rinitis alergi ringan. Tidak mengganggu aktivitas harian, tidur, bersantai, olahraga, belajar & bekerja.
Rinitis alergi sedang & berat. Mengganggu 1 atau lebih aktivitas tersebut.

Gejala klinik rinitis alergi, yaitu :

  • Bersin patologis. Bersin yang berulang lebih 5 kali setiap serangan bersin.
  • Rinore. Ingus yang keluar.
  • Gangguan hidung. Hidung gatal dan rasa tersumbat. Hidung rasa tersumbat merupakan gejala rinitis alergi yang paling sering kita temukan pada pasien anak-anak.
  • Gangguan mata. Mata gatal dan mengeluarkan air mata (lakrimasi).
  • Allergic shiner. Perasaan anak bahwa ada bayangan gelap di daerah bawah mata akibat stasis vena sekunder. Stasis vena ini disebabkan obstruksi hidung.
  • Allergic salute. Perilaku anak yang suka menggosok-gosok hidungnya akibat rasa gatal.
  • Allergic crease. Tanda garis melintang di dorsum nasi pada 1/3 bagian bawah akibat kebiasaan menggosok hidung.
  • Diagnosis rinitis alergi, yaitu :

    • Anamnesis.
    • Seringkali serangan rinitis alergi tidak terjadi di hadapan pemeriksa.

    • Rinoskopi anterior.
    • Terlihat mukosa hidung edema, basah & berwarna pucat (livid), dan banyak sekret encer.

    • Nasoendoskopi.
  • Sitologi hidung.
  • Kita dapat menemukan banyak eosinofil (menunjukkan alergi inhalan), basofil 5 sel/lap (menunjukkan alergi ingestan), dan sel PMN (menunjukkan infeksi bakteri).

  • Hitung eosinofi
  • l. Menggunakan darah tepi. Hasilnya bisa normal & meningkat.
    Jenis tes diantaranya prist-paper radio immunosorbent test untuk memeriksa IgE total; radio immunosorbent test (RAST) & enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) test keduanya untuk memeriksa IgE spesifik.
    Uji kulit.
    Untuk mencari alergen penyebab secara invivo
    Jenisnya skin end-point tetration/SET (uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri), prick test (uji cukit), scratch test (uji gores), challenge test (diet eliminasi dan provokasi) khusus untuk alergi makanan (ingestan alergen) dan provocative neutralization test atau intracuteneus provocative food test (IPFT) untuk alergi makanan (ingestan alergen).

    Terapi rinitis alergi, yaitu :

    Hindari kontak & eliminasi. Keduanya merupakan terapi paling ideal. Hindari kontak dengan alergen penyebab (avoidance). Eliminasi untuk alergen ingestan (alergi makanan).
    Simptomatik. Terapi medikamentosa yaitu antihistamin, dekongestan dan kortikosteroid.
    Operatif. Konkotomi merupakan tindakan memotong konka nasi inferior yang mengalami hipertrofi berat. Lakukan setelah kita gagal mengecilkan konka nasi inferior menggunakan kauterisasi yang memakai AgNO3 25% atau triklor asetat.
    Imunoterapi. Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi. Desensitasi dan hiposensitasi membentuk blocking antibody. Keduanya untuk alergi inhalan yang gejalanya berat, berlangsung lama dan hasil pengobatan lain belum memuaskan. Netralisasi tidak membentuk blocking antibody dan untuk alergi ingestan.

    Komplikasi rinitis alergi,
    yaitu :

    • Polip hidung. Rinitis alergi dapat menyebabkan atau menimbulkan kekambuhan polip hidung.
    • Otitis media. Rinitis alergi dapat menyebabkan otitis media yang sering residif dan terutama kita temukan pada pasien anak-anak.
    • Sinusitis paranasal.
    • Otitis media dan sinusitis paranasal bukanlah akibat langsung dari rinitis alergi melainkan adanya sumbatan pada hidung sehingga menghambat drainase.

    Daftar Pustaka

    Nina Irawati, Elisa Kasakeyan & Nikmah Rusmono. Alergi Hidung dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5. dr. H. Efiaty Arsyad Soepardi, Sp.THT & Prof. dr. H. Nurbaiti Iskandar, Sp.THT (editor). Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.

    Technorati Tags: , , ,

    Septum Deviasi

    Deviasi Septum Nasi
    Oleh : Muhammad al-Fatih II
    Deviasi septum nasi adalah kelainan bentuk septum nasi akibat trauma dan pertumbuhan tulang rawan yang tidak seimbang. Bentuk septum nasi yang normal adalah lurus dan berada di tengah rongga hidung kecuali septum nasi orang dewasa yang tidak lurus sempurna.

    Trauma merupakan penyebab terbanyak deviasi septum nasi. Trauma bisa saja kita alami sesudah lahir, selama partus dan masa janin intrauterin. Ketidakseimbangan pertumbuhan tulang rawan septum nasi yang terus tumbuh dapat pula menyebabkan deviasi septum nasi dimana pada saat bersamaan batas atas dan batas bawah septum nasi telah menetap.

    Deviasi septum nasi yang ringan tidak menimbulkan gangguan. Gangguan dapat terjadi pada deviasi septum nasi yang cukup berat. Fungsi hidung akan terganggu dan lama-kelamaan bisa menyebabkan komplikasi.

    Ada 4 bentuk deformitas septum nasi, yaitu :

    Deviasi. Deviasi septum nasi berbentuk huruf C dan S.
    Dislokasi. Bagian bawah tulang rawan septum nasi keluar dari krista maksila dan masuk ke dalam rongga hidung.
    Penonjolan. Penonjolan tulang dan kartilago septum nasi berbentuk krista dan spina. Bentuk krista berupa penonjolan yang memanjang dari depan ke belakang. Bentuk spina berupa penonjolan yang runcing dan pipih.
    Sinekia. Sinekia merupakan pertemuan dan perlekatan antara deviasi atau krista septum nasi dengan konka nasi yang berada di hadapannya sehingga makin memperberat obstruksi nasi.
    Terapi deviasi septum nasi kita sesuaikan dengan keadaan pasien. Apakah deviasi tersebut menimbulkan keluhan yang nyata buat pasien ? Jika tidak ada gejala atau keluhan pasien sangat ringan, kita tidak perlu melakukan koreksi septum nasi. Jika ada keluhan yang nyata maka tindakan koreksi septum nasi perlu kita lakukan.

    Tindakan operatif deviasi septum nasi, yaitu :

    Reseksi submukosa septum nasi (Submucous Septum Resection/SMR).
    Septoplasti atau reposisi septum nasi.
    Daftar Pustaka

    Nuty W. Nizar & Endang Mangunkusumo. Kelainan Septum dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5. dr. H. Efiaty Arsyad Soepardi, Sp.THT & Prof. dr. H. Nurbaiti Iskandar, Sp.THT (editor). Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.

    Technorati Tags: , , ,